[ak93-feua] Pola Makan Anak

      Pola Makan Anak
      Adopsi Kebiasaan Orangtua      
      Pola makan teratur dengan gizi seimbang menunjang stamina dan kesehatan 
tubuh. Terutama bagi anak-anak, kebiasaan
ini mendukung pertumbuhan fisik dan mental. 
      Membiasakan anak memiliki pola makan sehat bukanlah perkara mudah. Banyak 
terdengar keluhan para orangtua mengenai
kebiasaan makan anak-anaknya yang kurang baik, seperti menolak makan nasi 
lengkap dengan lauk pauk, hanya memilih makanan
manis atau menolak makan sama sekali dengan berbagai alasan. Tentu saja, itu 
membuat orangtua khawatir dengan perkembangan
sang buah hati. 

      Ternyata salah satu kunci keberhasilan membiasakan anak memiliki pola 
makan sehat terletak pada orangtua. Ciri khas
anak yang belajar dengan mengadopsi segala sesuatu yang dilihat dan didengar, 
membuat orangtua menjadi sosok utama bagi
mereka. 

      Hal itu dibenarkan psikolog dan play therapist Dra Mayke Tedjasputra MSi. 
Menurut staf pengajar Fakultas Psikologi
Universitas Indonesia itu, anak dan lingkungan saling memengaruhi. "Secara 
psikologi, seseorang mempelajari pola makan
yang baik itu dari orangtuanya," ujarnya. 

      Menurut dia, bila orangtuanya picky eating atau cenderung memilih 
makanan, maka akan menurun pada anak."Makanan
yang dimakan orangtua dapat menjadi contoh. Misalnya, ibu yang tidak suka ikan 
karena bau. Maka anaknya akan cenderung
mengikuti tidak suka ikan," ujar Mayke pada kampanye bertajuk "Bekal Cinta Blue 
Band untuk Anak Bangsa"  di Jakarta,
baru-baru ini. 

      Sebaliknya, Mayke mengaku memiliki klien yang ayahnya hanya suka makan 
ikan. Karena itu,sang anak pun hanya mau
makan ikan. "Jadi, orangtua adalah role model. Anak belajar sosial terutama 
dari orangtuanya,"  tegas Mayke. 

      Demikian pula mengenai tata krama di meja makan. Anak cenderung akan 
mengikuti kebiasaan orangtua. Karenanya,
lanjut Mayke, sejak anak berusia 9 bulan sebenarnya anak sudah bisa 
diperkenalkan untuk makan sendiri di meja makan.
"Belajar makan sendiri juga menjadi proses pembelajaran pemahaman mengenai 
makan yang benar," katanya. 

      Ketika sudah mulai duduk, lanjutnya, ajarkan untuk duduk di meja makan. 
Pada usia 9 bulan, biasanya anak sudah bisa
menjumput benda dengan kedua jarinya,telunjuk dan ibu jari sehingga bisa 
diajarkan makan sendiri. 

      Untuk mempelajari berbagai tekstur dan rasa makanan, tidak jarang 
anak-anak ingin merasakan makanan yang dimakan
oleh orangtua.Menurut Mayke, hal ini masih tergolong wajar. "Yang jelas anak 
bisa belajar makan dengan senang dan
menyenangkan," ucapnya. 

      Kemudian, untuk memperkenalkan makanan sehat dan bergizi dapat dilakukan 
sejak anak usia balita. Lalu, ketika anak
memasuki usia sekolah, maka pengertian mengenai makanan sehat dan bergizi dapat 
dikomunikasikan. 

      "Mulai diperkenalkan makanan sehat dan bergizi sejak balita, kemudian 
pada usia sekolah ajak anak berdialog dan
berdiskusi. Memang ada anak yang sangat mudah pemahamannya, ada yang 
sulit.Orangtua bisa mengajak anak menemui ahli gizi,
minta menjelaskan kepada anak," tuturnya. 

      Sebenarnya, kaitan antara pola makan orangtua dan anak telah dilakukan 
penelitian oleh para peneliti dari
Pennsylvania State University. Penelitian yang dilakukan oleh Amy T Galloway 
PhD, Laura Fiorito RD, Yoonna Lee PhD, dan
Leann L Birch PhD ini mempelajari mengenai kaitan pola makan sekelompok ibu dan 
anak perempuannya yang dimuat dalam jurnal
American Dietetic Association. 

      Penelitian tersebut dilakukan terhadap 173 anak perempuan berusia 9 tahun 
dan ibunya. Penelitian tersebut dilakukan
selama dua tahun,dimulai ketika anak berusia 7 tahun. 

      "Ketika anak perempuan berusia 7 tahun, para ibu diharuskan menuliskan 
makanan yang dikonsumsinya, termasuk
seberapa porsi buah dan sayuran setiap hari," ujar Amy T Galloway, seorang 
peneliti. 

      Para ibu juga ditanyai mengenai tekanan yang diberikan kepada anak 
perempuannya dengan menjawab pertanyaan, apakah
anaknya harus makan semua jenis makanan yang ada di piringnya,serta apabila 
anak saya berkata tidak lapar, dia harus tetap
makan. 

      Kemudian, ketika anak perempuan tersebut berusia 9 tahun, para ibu 
kembali ditanya mengenai tipe dan jumlah makanan
yang dikonsumsi anaknya setiap hari. Mereka juga ditanyai, apakah menganggap 
anaknya sering kali memilih makanan.
Sementara itu, dalam penelitian tersebut sang anak diukur berat badan dan kadar 
lemak. 

      "Hasilnya, para ibu yang mengonsumsi lebih banyak buah dan sayur 
mengatakan bahwa mereka tidak memberikan tekanan
yang lebih besar untuk anak-anak perempuan mereka untuk makan. Kemudian, para 
ibu ini memiliki anak-anak yang lebih banyak
mengonsumsi sayur dan buah, serta tidak memiliki kebiasaan memilih makanan," 
ujar Amy. 

      Sebaliknya, lanjut Amy, anak-anak yang cenderung memilih makanan lebih 
sedikit mengonsumsi buah dan sayur.
Meskipun, sebagian dari anak perempuan tersebut juga tidak banyak mengonsumsi 
makanan kadar gula tinggi dan berlemak. 

      Berdasarkan penelitian tersebut, disimpulkan bahwa masukan nutrisi yang 
diberikan oleh orangtua dapat memengaruhi
kebiasaan anak nantinya. Kebiasaan mengonsumsi buah dan sayur yang cukup pada 
orangtua dapat mendorong anak untuk
melakukan hal yang sama. (ririn s/sindo/via)


     

sumber : okezone


  

-- 
Terima Kasih.

Arsip: http://www.freelists.org/archives/ak93-feua

Other related posts: