[ak93-feua] I am so sad to read this (kasus demam berdarah)
- From: gatot prasetyo <gatotpras@xxxxxxxxx>
- To: Faizal isal <isalr@xxxxxxxxxxx>, dodik kmk <bjdoddy@xxxxxxxxx>,Lenny <lenny_julianty@xxxxxxxxx>, Srikit <prist_te@xxxxxxxxx>,dodot superman <superman_dodot@xxxxxxxxxxx>,ak93-feua <ak93-feua@xxxxxxxxxxxxx>,FE UNAIR <alumni_fe_unair@xxxxxxxxxxxxxxx>,garang99 <garang99@xxxxxxxxxxxxxxx>
- Date: Wed, 18 Feb 2004 01:27:08 -0800 (PST)
Frends,
kasus dibawah ini sangat2 menyedihkan (sori bagi yang
udah pernah baca), terus terang aku sampai menitikkan
air mata membaca berita ini, kalau masalah nyawa
uang sering kali tidak ada artinya.
aku ikut bela sungkawa yang sedalam2nya...
Korban Meninggal Demam Berdarah: "IBU, BERPELUKAN..."
Jakarta, KCM
Meski sudah 2 minggu, Nova, ibu muda yang tinggal di
daerah Kebayoran Baru,
Jakarta Selatan, masih berduka. Rabu (3/2), dia
kehilangan Bima, anak
semata wayangnya. Penyakit demam berdarah merenggut
nyawa bocah laki-laki
berusia 6 tahun itu.
Sudah takdir, begitu kata sebagian orang. Tetapi, Nova
merasa dokter yang
menangani anaknya tidak profesional. Selain salah
diagnosa, penanganan
dokter juga tidak maksimal.
Tidak Minta Dibacakan Buku Ceritera
Hari itu, Kamis 29 Januari, Bima (6), bersekolah
seperti biasa. Kondisi
tubuhnya amat sehat. Sepulang sekolah, bocah tampan
yang duduk di kelas 1
sekolah elit High Scope Indonesia di bilangan TB
Simatupang itu, masih
mengerjakan pekerjaan rumahnya di kamar. Seperti hari
lainnya, Bima
menyelesaikan pelajaran sekolahnya pukul 14.30.
Setelah itu, ia masih
mengikuti kegiatan ekstra kurikuler selama 45 menit.
Pukul 15.15 barulah
Bima pulang ke rumah dijemput supir.
"Untuk perjalanan dari sekolah ke rumah, biasanya saya
bawain jus dan
snack. Dia suka jus apa saja terutama buah-buahan
lokal seperti pepaya,
tomat, jeruk, mangga, pisang ambon. Cemilannya bisa
nugget atau roti,"
tutur Nova, ibu muda yang hanya memiliki satu anak
itu.
Setengah jam setelah tiba di rumah, Bima mandi air
hangat yang sudah
disiapkan ibunya. Setelah bermain-main sejenak dan
shalat maghrib, tanpa
disuruh Bima mengerjakan PR-nya.
"Anak itu gampang sekali, tidak pernah membuat susah.
Biar anak tunggal
sangat mandiri. Tidak perlu diingatkan berkali-kali
untuk mengerjakan PR
atau shalat," kata sang ibu.
Seperti juga hari-hari lainnya, pukul 9.00 malam, Bima
beranjak ke tempat
tidur. Entah mengapa, malam itu, dia tidak minta
dibacakan buku ceritera
kesayangannya. Padahal, biasanya Bima tidak bisa tidur
kalau belum
dibacakan kisah binatang kesukaannya.
"Tumben, anak ini langsung tidur. Saya pegang badannya
kok panas. Saya
ambil termometer, setelah diukur ternyata panasnya
38,5 derajat Celcius.
Cukup tinggi. Langsung saya beri obat penurun demam
Proris, " ujar Nova
yang sempat heran setelah diberi obat, kok demam
anaknya tak juga turun.
Pukul 01.00 dinihari, Nova bangun untuk memeriksa
keadaan Bima. Pipi sang
anak terlihat memerah. "Saya yang ada di sebelahnya
saja bisa merasakan
hawa panasnya." Begitu diukur suhu tubuhnya mencapai
40,5 derajat Celcius.
Nova mulai khawatir, mengapa obat demam yang
diberikannya pukul 22,00 sama
sekali tak bereaksi. Memberi obat lagi jelas tidak
mungkin, karena harus
diberikan setiap 8 jam. "Karena takut step, tubuhnya
saya terapi dengan
alkohol. Sementara bagian yang berbahaya seperti
kening, dahi, belakang
tengkuk, ketiak, saya kompres dengan plester penurun
panas"
Semalaman Nova tidak tidur. Ia tidak langsung membawa
putra tunggalnya ke
dokter, karena mengira Bima hanya menderita radang
tenggorokan. Apalagi,
Bima juga mengeluh lehernya sakit. Setelah lewat 8
jam, sekitar pukul 04.00
pagi, Nova kembali memberikan obat demam untuk kedua
kalinya, karena suhu
tubuh Bima masih cukup tinggi.
Pagi-pagi sekali, Jum'at (30/1), Nova langsung
mendaftar melalui telepon ke
Rumah Sakit Pondok Indah untuk memeriksakan anaknya.
"Saya baru dapat giliran jam 1.00 siang. Karena
pasiennya penuh dan dokter
di sana baru praktik jam 10.00," tuturnya.
Muntah-muntah
Selama menunggu dibawa ke dokter, Bima di rumah
muntah-muntah luar biasa.
Nova kembali menghubungi rumah sakit mengabarkan
kondisi anaknya yang
mengkhawtirkan. Namun, petugas di rumah sakit tak bisa
berbuat apa-apa
karena dokter baru tiba siang hari.
Ketika itu, suhu tubuh Bima hanya turun sedikit,
sekitar 39,5 derajat
Celcius. Dia sama sekali tak mengeluh. Makan pun masih
mau. Meski sakit,
buah apel, keju, nasi dengan lauk udang, dilahapnya.
"Makannya jalan, tapi muntahnya juga jalan terus.
Begitu muntah saya suapi
lagi, karena takut dehidrasi. Minumnya juga kuat.
Setiap 2 jam, satu botol
Aqua habis. Tetapi, muntahnya semakin sering. Saya
sampai kelelahan
mengejar antara muntah dengan memberi makanan lagi, "
ujar Nova.
Usai shalat Jum'at, begitu akan dibawa ke dokter,
hujan turun sangat deras.
Badai melanda Jakarta, pohon-pohon besar di jalanan
tumbang. "Asbes, seng,
terbang seperti daun di depan rumah saya," kata Nova
yang tinggal di Jalan
Radio Dalam Raya, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.
Siang itu, Bima batal pergi ke dokter, karena keadaan
cuaca sangat
berbahaya.
Pukul setengah empat sore, ketika badai mereda, mereka
baru bisa berangkat
ke rumah sakit. "Jalanan porak poranda, akibat banyak
pohon tumbang.
Setelah menunggu pohon digergaji dan disingkirkan dari
jalan raya, mobil
saya baru bisa lewat," ujar Nova yang sampai di rumah
sakit pukul 18.30.
Karena dokter langganannya ke luar negeri, Nova
memilih dokter lain. "Saya
pilih dokter yang namanya sudah sangat populer dan
dikenal bagus," ujarnya
Setelah Nova menceriterakan keadaan Bima, dokter
memeriksa bocah itu dengan
sangat teliti. Mulai dari telinga, hidung, mata,
hingga mulut. Paru-paru
dan perutnya ditekan-tekan, sembari bertanya, "Sakit
nak?", Bima
menggeleng, "Tidak".
Usai memeriksa, dokter mengatakan, "Nggak apa-apa ini
bu. Anak ibu hanya
menderita radang tenggorokan." Ketika Nova bertanya
mengapa anaknya muntah
luar biasa, bahkan air dari perutnya keluar banyak
sekali? Dokter menjawab
enteng, "Ah, anak ibu belum dehidrasi. Minumnya masih
banyak kan? Ini cuma
radang saja kok."
Sewaktu didesak lagi soal muntah yang berlebihan
dokter hanya mengatakan
iritasi di tenggorokan memang menyebabkan gatal dan
muntah. "Penjelasan itu
tidak memuaskan saya, kemudian saya tanya lagi, perlu
infus apa tidak ya?"
Dokter menjawab enteng, "Tidak."
Suaminya, sempat menyenggol lengannya, "Yang sekolah
siapa sih?" tanyanya
bercanda, agar Nova menghentikan pertanyaan-pertanyaan
kritisnya.
Nalurinya sebagai ibu yang ingin melindungi anaknya,
membuat Nova terus
mempertanyakan jawaban dokter yang menurutnya tidak
meyakinkan.
"Lalu kami ke luar ruangan. Anak saya minta jaketnya
dibuka. Begitu dibuka
saya kaget lihat tangannya seperti orang kena tampek,
ada bercak-bercak
hitam. Aduh anak saya nggak begini nih tangannya. Saya
balik lagi. Dok
kenapa nih Bima, kok tangannya begini? Yang saya tahu
anak saya tangannya
mulus banget," tanya Nova kepada dokter. "Ah nggak
apa-apa, karena panasnya
tinggi, pembuluh darahnya lebih kelihatan," jawab
dokter enteng.
Dokter memberikan obat antibiotik cair, Velocef, 250
miligram, obat demam
Proris dan Parasetamol 300 miligram.
"Nanti kalau sudah minum obat ini 3 hari, dan belum
sembuh, cek darah ya,"
pesan dokter.
Sesampainya di rumah, Nova langsung memberikan
obat-obat itu pada anaknya.
Setelah minum obat pemberian dokter, muntah Bima
berkurang, demamnya pun
turun, meski masih 38,5 derajat Celcius. "Oh obatnya
bekerja, pikir saya
senang."
Tapi, Nova tak lantas berhenti berikhtiar. Ia mencoba
mendapatkan second
opinion dari dokter lain. "Saya itu orangnya paranoid.
Saya tak pernah
percaya satu dokter. Saya cek lagi ke dokter lain."
Entah mengapa, kali ini Nova meminta pendapat dari
mertuanya yang juga
dokter spesialis anak. "Pa, saya kok nggak puas,
tolong Bima diperiksa
lagi."
Sang kakek kemudian memeriksa cucu laki-lakinya dengan
teliti, termasuk
melihat obat yang diberikan dokter. "Nggak apa-apa.
Dia radang tenggorokan.
Obat yang sudah diberikan dokter minum saja, habiskan.
Itu sudah benar,"
kata sang kakek.
Nova belum puas juga dengan jawaban itu. Dia
bertanya-tanya dalam hati,
setahunya anak demam tidak boleh lama-lama. Ia takut
otak anaknya akan
mengecil, atau ada efek lainnya. Namun, mertuanya
meminta Nova berpikir
positif saja untuk anaknya.
Beli kambing kurban
Hari Sabtu (31/1), kondisi Bima membaik. Anak ini
malah sempat membeli
kambing yang akan dikurbankannya pada hari raya Idul
Adha. "Bu, aku ingin
kurban, dan kambingnya aku pilih sendiri."
Usai memberi makan kambing yang baru dibeli bersama
ibunya, Bima bermain
dengan sepupunya. Muntahnya sudah berhenti dan suhu
tubuhnya 37,5 derajat
Celcius.
Keesokkan harinya, Minggu (1/2), pada hari raya
Lebaran Haji, Bima masih
bermain seperti biasa. Hanya saja ia terlihat lemas,
dan lebih banyak
tidur-tiduran. Nova sempat memberinya jus jambu.
Namun, Bima sudah tak mau
makan. Ia hanya minum terus.
Malam harinya, kira-kira pukul 21.30, kakeknya
menanyakan kabar Bima via
SMS, "Bagaimana posisi Bima?" Dijawab Nova, panasnya
masih 38,5 derajat
Celcius. "Coba cek darah," jawab sang kakek yang
diiyakan Nova.
Menjelang sebuh, suhu badan badan Bima mendadak naik
40,5 derajat Celcius.
"Saya panik. Anda yang nggak beres nih. Wong panasnya
sudah turun kok naik
lagi. Pasti ada infeksi," tutur Nova. Bima, masih
sempat minta makan. "Bu,
aku pengin makan," kata si anak. Ibunya memberi pisang
ambon. Tak berapa
lama, Bima malah muntah-muntah. Kali ini, muntahannya
agak berbeda. Seperti
ada lendir coklat. "Saya tidak curiga karena saya
bayangkan jika pisang
ambon teroksidasi warnanya berubah coklat."
Yang mengherankan, ketika suhu badannya diukur, bagian
atas menunjukkan
angka 40.5 derajat Celcius, namun dari pangkal paha
sampai kaki, sangat
dingin.
Senin sore (2/2) sekitar pukul 15.00, Bima digotong ke
UGD RS Pondok Indah.
Setengah jam kemudian, Bima sudah tiba di RS. Melihat
kondisi Bima, dokter
jaga UGD langsung berkomentar, "Aduh, anak ibu
kayaknya DB nih." Nova balik
bertanya, "Apa DB dok?" ,"Demam berdarah," jawab
dokter. "Saya langsung
lemes," ujar Nova.
Paramedis di rumah sakit langsung panik, mereka segera
melakukan cek darah
memastikan jumlah trombositnya. Saat itu, trombositnya
masih 20.000.
Bima disarankan segera masuk ICU. Sayangnya, ICU di
rumah sakit tersebut
sudah penuh. Ruang ICCU pun sudah tak bisa menampung
lagi. Akhirnya, Nova
diberi tiga pilihan, RSCM, RS Bintaro atau sebuah
rumah sakit elit di
wilayah Jakarta Selatan.
Berdasarkan pertimbangan mertuanya yang berprofesi
dokter, Nova memilih
yang terakhir. Apalagi rumah sakit tersebut, jaraknya
cukup dekat dari
rumahnya. "Tapi jujur saja, sebenarnya perasaan saya
tidak setuju Bima
dirawat di rumah sakit tersebut," tuturnya.
Kepada dokter di RS Pondok Indah, Nova sempat
menyayangkan, mengapa pada
pemeriksaan pertama, anaknya tak terdeteksi demam
berdarah. Malah, menyuruh
kembali lagi setelah 3 hari. "Dokter itu sudah nggak
bisa ngomong apa-apa
lagi," ujar Nova.
Ia juga kesal pada mertuanya karena sebagai dokter tak
bisa mendeteksi
demam berdarah yang diderita Bima.
Senin malam itu, Bima dibawa dengan ambulans kerumah
sakit yang sudah
dipilih keluarganya.
Sebelum berangkat, Nova sempat bertanya pada dokter
Hinky Hindra Irawan
Satari, ahli spesialis penyakit daerah tropis yang
berpraktik di RSCM, soal
tindakan apa yang akan diambil dokter dalam keadaan
Bima yang sudah kritis.
Diterangkan oleh dokter, Bima harus segera mendapatkan
vena session, infus
di bagian kaki. Karena dari tangan sudah tidak bisa,
darahnya sudah
membeku.
"Saya bertanya lagi, apakah di rumah sakit yang akan
kami tuju itu sudah
mengerti tindakan yang akan dilakukan. Dokter
mengatakan di sana sudah
siap, dan begitu tiba, langsung diambil tindakan. Saya
percaya saja."
Hanya ditangani perawat
Sesampainya di rumah sakit yang dituju, alangkah
terkejutnya Nova, karena
Bima kembali dimasukkan ke UGD, dan menjalani
pemeriksaan dari awal lagi.
"Saya membentak petugasnya, ini kan sudah ada file-nya
dari RS Pondok
Indah, kok masih diperiksa ulang. Mereka nggak jawab.
Entah apa memang
demikian prosedur rumah sakit. Lama sekali anak saya
diperiksa di UGD, baru
kemudian dibawa ke ICU."
"Yang lebih hebat lagi," lanjut Nova, "Sejak anak saya
masuk, dia hanya
ditangani suster. Dokter anak, yang harusnya berjaga
di ICU baru datang
menjelang tengah malam. Ketika dia datang, anak saya
sudah rapi, dan sudah
diinfus oleh suster. Dia tinggal lihat-lihat aja."
Akibat dokter datang terlambat, perawat yang
menangani, sempat berkali-kali
salah menusukkan jarum infus ke tubuh Bima yang
darahnya sudah mengental.
"Suster itu seenaknya tusuk sana, tusuk sini, salah-
salah terus, sampai
anak saya teriak-teriak," tutur Nova dengan nada
tinggi.
Kepada dokter tadi, Nova sempat bertanya mengapa
anaknya tidak mendapatkan
vena session. "Ini sudah cukup, nggak perlu lagi,"
kata dokter. "Saya diam
saja. Dia malah menyarankan foto paru-paru lagi,
artinya kembali lagi pada
pemeriksaan awal yang sudah dilakukan di RS Pondok
Indah."
Selasa pagi (2/2), sekitar pukul 8.00, kondisi Bima
drop. Ia merasa
kedinginan luar biasa. Suhu tubuhnya 35,5 derajat
Celcius. Dokter dan
perawat terlihat panik. "Kenapa dokter pada panik,
saya nggak ngerti. Anak
saya kemudian dikasih pemanas. Alat itu, semacam ada
lampunya, yang
dipasang dari bagian pinggang sampai kaki Bima."
"Ibu masih dingin sekali, minta selimut. Empat deh bu
selimutnya, " keluh
Bima berulang-ulang.
Nova menanyakan kepada perawat mengapa anaknya
menggigil kedinginan. "Nggak
apa-apa bu, pasien demam berdarah memang begitu,
kadang stabil, kadang
shock."
Pada saat kritis itu, barulah beberapa dokter datang,
malah ada yang
menyarankan mencari dokter anestesi untuk melakukan
vena session. "Saya
pikir kok baru sekarang diambil tindakan vena session,
padahal saya sudah
menanyakan hal itu sejak tadi malam," pikir Nova.
Lebih mengherankan lagi, dokter anak yang menangani
Bima, baru pagi itu
memeriksa seluruh catatan medis Bima. "Mana file dari
RS Pondok Indah? Mana
foto paru-paru? Mana hasil pemeriksaan darah? Mana
laporan trombosit?"
tanya dokter itu panik. "Semua kertas-kertas itu
berserakan di atas meja.
Padahal kondisi anak saya sudah sangat drop, dan
dokter baru mempelajari
catatan medisnya," tutur Nova kesal.
Wajah-wajah dokter dan perawat terlihat panik, malah
ada sebagian yang
berusaha menahan air mata. "Mereka kelihatan putus
asa. Tetapi tetap tidak
ngomong apa-apa pada saya. Kenapa muka mereka begitu?"
tanya Nova dalam
hati.
Pagi itu juga Bima mendapatkan vena session, infus di
bagian kakinya,
ditambah infus di bagian leher. "Ada tiga selang yang
masuk ke leher anak
saya," kata Nova, yang berusaha memastikan apakah
dokter yakin dengan
tindakan infus di bagian leher anaknya.
"Ini satu-satunya kesempatan," ujar dokter itu.
Alasannya, di bagian leher
ada pembuluh darah besar, jadi lebih gampang. Perawat
juga memasang infus
di bagian selangkangan Bima.
Setelah beberapa lama dipasang, infus di bagian
selangkangan Bima
menimbulkan bengkak. Ketika ditanyakan, perawat dengan
enteng berujar, "Oh,
ternyata yang di sini nggak bisa dok, infusnya nggak
masuk," kata Nova
menirukan ucapan suster tersebut.
Sempat terlintas dalam pikiran Nova, memindahkan
anaknya ke rumah sakit
lain, tapi kondisi Bima sudah terlalu parah.
Satu-satunya hal yang bisa
dilakukannya tinggal ikhtiar dan berdoa.
Tinja berwarna hitam
Selasa sore, Bima buang air besar. Nova semakin cemas,
karena warna tinja
anaknya hitam. "Saya kaget, kok tinjanya berwarna
hitam. Ketika saya tanya
ke dokter, dijawab tidak apa-apa. Itu merupakan proses
perjalanan
penyakit."
Namun, kondisi Bima semakin parah. Sekujur tubuhnya,
mulai dari kepala
sampai kaki membengkak. "Bima diguyur 9 botol infus.
Itu apa saja, saya
nggak tahu," ujar Nova sedih.
Ia kembali bertanya kepada dokter, "Kok bengkak sih
dok? Ini gimana anak
saya?", "Nggak apa-apa bu, nanti kempes sendiri,
sejalan dengan keluarnya
virus, nanti kempes sendiri," jawab dokter.
Diantara bagian tubuh lainnya, paha Bima, yang
terlihat paling besar karena
bengkak. Nova kembali bertanya, "Dok kok pahanya besar
sekali?", dokter
menenangkan, "Nggak apa-apa, itu proses perjalanan
penyakit. Ibu tenang
saja."
Dalam kondisi tubuh membengkak, Bima masih sadar dan
bertanya pada ibunya,
"Bu, kapan teman-teman mau jenguk aku? Aku pengin
pulang, aku pengin
sekolah lagi, aku mau main sama temen-temen. Bu, bawa
dong temen-temen aku
ke sini," kata Bima mengoceh sampai tengah malam.
Sore harinya, pukul 17.00, suster kepala ruangan masih
memberi informasi
yang cukup menghibur. Lima jam lagi Bima akan berhasil
melewati masa
kritisnya. "Apa maksudnya," tanya Nova. "Sebentar
lagi, Bima, akan normal,"
jawab suster yang memberitahukan posisi trombosit Bima
29.000. "
Alhamdulilah," sahut Nova bersyukur.
Hari itu, Bima ingin sekali minum fruit tea rasa
anggur dan peach. "Dia
juga lapar, pengin makan. Karena puasa, saya hanya
memberi air sesendok.
Itu pun ditegur perawat."
"Bu, aku pengin minum yang glek-glek, kok nggak boleh
sih, pelit amat,"
ujar Bima lagi.
Hari Rabu, pukul 01.00 dini hari, Bima meminta ibunya
membersihkan
darah-darah kering disekitar jarum infusnya. "Bu,
tolong bedak-bedakin juga
dong. Ibu cium-cium juga ya," pintanya.
Nova menciumi tangan anaknya. "Gantian dong bu, tangan
yang satu lagi, "
kata Bima. "Kakinya, ciumin juga ya bu," lanjutnya.
Setelah puas diciumi
ibunya, Bima minta ijin tidur. "Bu, aku tidur ya."
Sebelum tidur, Bima
sempat membaca doa.
Pada saat anaknya tidur, Nova menanyakan kondisi
anaknya pada perawat.
Semuanya dijawab bagus. Air di paru-parunya pun sudah
berkurang. "Entah itu
sekadar lips service atau apa, tetapi mereka memberi
harapan optimal kepada
saya," tutur Nova.
Pukul 01.30, Nova sempat shalat di samping tempat
tidur Bima. Tiba-tiba
anaknya memanggil, "Ibuuu.., berpelukan", belum sempat
Nova memeluk
anaknya, baru berlari ke arah tempat tidurnya, Bima
sudah ngos-ngosan,
nafasnya sesak. Nova segera berteriak memanggil
suster, memintanya
mengambil alat pacu jantung.
Tetapi, satu orang perawat ICU yang berjaga ketika
itu, malah sibuk
mengatur volume selang infus. "Saya bingung dan marah,
kok reaksinya
seperti itu, pintu kaca ICCU saya gedor keras-keras.
Tolong anak saya,
ambil alat bantu pernafasan," teriak Nova.
Perawat kemudian memberikan CPR melalui pompa. "Saya
masih memberi
semangat, 'Ayo tolongin anak saya, jangan putus asa.'
Saya masih optimis,
karena saya masih ingat janji-janji suster sore
harinya bagus banget," kata
Nova.
Bima kemudian disuntik adrenalin, detak jantungnya
sempat naik, tapi
kemudian tak ada sambutan lagi, dan... hilang. Dengan
alat kejut jantung
pun tak bisa mengangkat lagi, grafik detak jantungnya
tak bergerak lagi.
"Sudah bu, kami sudah berusaha, maaf..," ujar perawat.
Tubuh Nova langsung lemas, antara percaya tidak
percaya, Bima, anak semata
wayangnya, telah meninggalkannya untuk selama-lamanya,
tepat pukul 02.15
pagi.
Ia hanya bisa menyayangkan, mengapa pada saat kritis
itu, tak ada satu
dokter pun yang menangani anaknya.
Satu hal yang masih berkecamuk di benak Nova dan
kerabatnya hingga hari
ini, adalah: Kok bisa sih di kota metropolitan, dengan
rumah sakit yang
katanya favorit, penderita demam berdarah tidak
tertolong nyawanya?
Padahal, biaya yang harus dikeluarkannya selama dua
hari dirawat di rumah
sakit, cukup besar, lebih kurang Rp12,5 juta. Mengapa
pelayanan yang
diterimanya sedemikian buruk?
Dalam keadaan marah dan kecewa, ia sempat ingin
menggugat pihak rumah
sakit. Tetapi setelah mempertimbangkan kemungkinan
anaknya akan diotopsi,
Nova menyurutkan langkahnya. "Saya tidak mungkin
melakukan itu (otopsi)
pada anak saya," ujarnya lirih.
Ia hanya berpesan kepada para orangtua, begitu anak
panas lebih dari 37,5
derajat Celcius, dan sudah diberi obat demam, suhunya
tidak turun-turun,
segera bawa ke dokter. Bila dokter tak berinisiatif
mengecek darah, bawa
sendiri ke laboratorium dan periksa darahnya. Kalau
perlu, pemeriksaan
laboratorium dilakukan selama dua hari berturut-turut.
Bila selama dua hari
itu terjadi penurunan jumlah trombosit segera bawa ke
rumah sakit, dengan
menunjukkan bukti penurunan trombositnya.
"Tidak usah menunggu bintik merah, karena sampai Bima
meninggal, tak ada
bintik merah sama sekali di tubuhnya," ujar Nova
lirih. (ZRP)
fr milis AKI
__________________________________
Do you Yahoo!?
Yahoo! Mail SpamGuard - Read only the mail you want.
http://antispam.yahoo.com/tools
Other related posts:
- » [ak93-feua] I am so sad to read this (kasus demam berdarah)