[ak93-feua] Fwd: OOT: Kasus TEMPO, catatan harian Ahmad Taufik

--- In AhliKeuangan-Indonesia@xxxxxxxxxxxxxxx, Dede <ndewanto@xxxx> 
wrote:
Kronologi
Penyerbuan Tomy Winata ke TEMPO

Oleh: Ahmad Taufik, Wartawan Majalah TEMPO

Prolog

Peristiwa yang terjadi pada hari Sabtu, 8 Maret 2003, telah menodai
kemanusiaan
dan kehidupan yang beradab di negeri ini. Sekelompok orang dengan 
uang yang
dimilikinya mengerahkan massa, menteror dan berbuat sewenang-wenang. 
Aparat
keamanan (polisi) juga tidak berdaya, dan dipermalukan di depan 
masyarakat
(minimal saksi mata dan saksi korban). 

Apa yang akan saya ceritakan disini adalah kronologi penyerbuan yang 
tak
beradab dan penyelesaian akhir yang terputus. Saya sebagai saksi 
mata, saksi
pelaku sekaligus saksi korban (yang mendengar, melihat dan merasakan
kejadian).
Saya akan klasifikasikan secara terbuka dalam laporan ini: apa itu 
informasi,
yang saya lihat, saya dengar, saya rasakan, analisa atau kesimpulan. 
Soal kata
akhir terserah masing-masing pihak yang tersangkut disini, karena 
saya tidak
bisa terima dan sekaligus tertekan secara psikis.

Inilah laporan lengkapnya.

Rabu, 5 Maret 2003 

Saya ditelepon oleh Desmon J.Mahesa, kuasa hukum Tomy Winata. Ia 
mengatakan
bosnya, Tomy Winata, tak senang dengan tulisan saya di TEMPO edisi 
Senin, 3
Maret 2003, berjudul "Ada Tomy di Tenabang?". Dia tanya, "Apakah 
tulisan itu
dibuat BHM (Bambang Harymurti)? BHM itu, kan bekas anak tentara, yang 
membenci
Tomy Winata, Artha Graha, karena AG diback-up Edy Sudrajat." 

Saya bilang, "Pada saat tulisan itu jadi BHM sedang berada di luar 
negeri, di
sini kami bekerja dalam sebuah tim kolektif." 

Desmon lalu bilang, "Akan mengirim surat ke TEMPO." Saya 
katakan "silakan
saja." Ia mengatakan, "Saya kulonuwun dulu, karena ada senior di sini 
(TEMPO,
maksudnya saya, sebagai aktivis dulunya) untuk mengirim surat atas 
permintaan
bos/kliennya." 

Saya sempat memberi tahu kepada atasan saya di kompartemen nasional, 
dan
beberapa kawan, serta BHM soal rencana Tomy melalui Desmon J. Mahesa 
akan
mengirim surat ke TEMPO.

Jum'at, 7 Maret 2003

Desmon kembali, menelepon saya, bahwa ia sudah mengirimkan surat 
somasi ke
TEMPO. Lo, saya kaget juga. Somasi? Saya pikir surat yang dimaksud 
Desmon
adalah surat bantahan. Saya tanya kapan dikirim? 
"Sudah siang ini," jawabnya. 
"OK, saya cek," jawab saya. 
Baru saya turun ke lantai dua, Wakil Pemimpin Redaksi Toriq Hadad 
memanggil
saya, bahwa ada surat somasi dari Tomy Winata yang baru diterimanya. 
Saya
diminta foto copy untuk mempelajarinya, dan mengumpulkan bahan-bahan 
untuk
bukti-bukti bila kasus tersebut berlanjut ke pengadilan. 

Saya berdiskusi dengan atasan saya di kompartemen nasional. Atasan 
saya bilang
"cobalah rayu Desmon dulu, mungkin bisa diselesaikan dengan cara 
lain." 

Kawan saya dari kompartemen lain, Karaniya Dharmasaputra penanggung 
jawab
kompartemen Ekbis & Investigasi, juga berusaha menghubungi seorang 
sumbernya
yang merupakan kawan dekat Tomy Winata. Katanya akan diatur pertemuan 
dengan
Tomy Winata pada Hari Senin, 10 Maret, mungkin caranya dengan 
memberikan
wawancara khusus kepada Tomy yang lebih konprehensif seputar isi 
berita
sebelumnya.

Saya menelepon Desmon, soal somasi itu. Dia mengatakan akan memberikan
konprensi pers di Restoran Sari Kuring, kompleks SCBD, Sabtu, 8 Maret 
2003,
pukul 11.00 siang. Aku menawarkan kenapa dia tidak mengajukan dulu 
surat
bantahan (yang saya janjikan akan bisa dimuat untuk terbitan 
mendatang), "jadi
somasinya enak."

Tapi Desmon bilang, "kliennya minta somasi bukan surat bantahan. Lagi 
pula
bantahannya kan sudah termuat dalam berita itu," kata Desmon. 

Kalau sudah ketetapannya begitu, saya bilang OK-lah. Bahkan Desmon 
sempat
bilang kirim orang ya ke konprensi pers itu. Saya mengiyakan.

Sabtu, 8 Maret 
Sekitar pukul 10.00 saya sedang menghadiri undangan acara penikahan 
yang juga
dihadiri Wakil Presiden Hamzah Haz di daerah Condet, Jakarta Timur. 
Saya
ditelepon seseorang teman seprofesi. "Eh, Tomy marah besar sama TEMPO 
soal
berita Tanah Abang itu."

"O ya terima kasih," kata saya dan menceritakan soal somasi dan 
konprensi pers
Desmon, hari ini (Sabtu/11/03). Telepon terputus. Tak lama kemudian 
sekretaris
redaksi menelepon, "Pik, tolong ke kantor segera, di sini belum ada 
orang.
Polisi sudah banyak di depan katanya, orang-orang Tomy Winata akan 
mendemo
kantor TEMPO."

Acara pernikahan belum seluruhnya selesai, saya langsung pulang 
setelah
mencicipi sedikit nasi kebuli. Saya berjalan kaki mencari taksi di 
Jln raya
Condet, sunguh sulit, jalan macet. Akhirnya setelah berjalan kaki 15 
menit,
saya melihat taksi Blue bird kosong, saya memberi tanda ia untuk 
memutar
arah. 

Saya akhirnya naik taksi itu sampai ke kantor, memang polisi sudah 
ada 2 truk,
sedang bersiap-siap di dalam pagar TEMPO untuk pengamanan. Saya ke 
lantai 3
untuk mengecek e-mail, sambil beberapa kali melihat ke jendela dari 
atas ke
bawah lapangan parkir. 15 menit kemudian, saya lihat sekelompok orang 
(mungkin
masih 100-an orang) bertampang sangar menggoyang-goyangkan pagar 
gerbang
TEMPO.
Mereka juga berteriak-teriak, Tutup majalah TEMPO, Cabut Izinnya, 
bakar,
tangkap dll. Saya berbekal foto copy surat kuasa Tomy Winata dan 
somasi yang
dikirimkan Desmon, menuju ke bawah, saya berada di belakang polisi 
sambil
melihat-lihat aksi itu, saya merasa masih biasa-biasa saja, walapun 
mereka
bertampang sangar dan teriak-teriak. Saya bilang kepada salah seorang 
polisi
(kalau saya lihat saya ingat orang itu), "Saya minta perwakilan 2 
atau 5 orang
untuk masuk ke kantor kami."

Namun, polisi tersebut mengatakan, "Sudah, bapak ke depan saja, beri
penjelasan
kepada mereka." 

Akhirnya dengan baca bismilllah, saya ke depan, saya berpikir akan 
aman, toh
polisi sudah lebih banyak dari mereka (namun saya baru sadar 
belakangan semua
polisi berada di balik pagar, di dalam halaman kantor TEMPO). Di 
depan massa,
saya berkata, "Saya sekarang yang sedang bertanggung jawab di kantor 
ini, saya
akan memberi penjelasan," kata saya sambil membawa kertas surat kuasa 
Tomy dan
Somasi Desmon. Namun yang terjadi saya ditarik-tarik, ada 4 orang
menarik-narik
saya ke arah tengah-tengah massa, seorang lagi yang berada di dekat 
pagar
menarik kerah baju saya (orangnya kurus gondrong, dan terus ada 
sampai di
kantor Polres). Saya ditarik-tarik, tanpa ada yang menolong, di depan 
pagar
yang ada polisi, saya bilang, "Buka, buka tolong selamatkan saya." 
Tapi pagar
tidak dibuka (mungkin polisi punya alasan lain, takut massa masuk 
juga). 

Saya sungguh ketakutan, peci putih saya pinjaman ipar saya yang saya 
kenakan
sejak acara pernikahan melayang dari kepala saya, entah siapa yang
mengambilnya. Saya melihat pintu kecil di pinggir gerbang terbuka, 
jaraknya
hanya 1,5 meter dari tempat saya ditarik-tarik. Saya berontak dari 
massa dan
kabur terseok-seok (Alhamdulillah berkat tangan Allah padahal saat
ditarik-tarik
saya sudah hopeless). Jari tangan saya berdarah terluka, entah kena 
apa?
Sampai
di dalam gerbang karena terjatuh, dua orang polisi dengan tongkatnya 
dari
kerumunan itu berusaha akan menggebuk saya, tongkat sudah diayunkan, 
tapi
hanya
jarak dekat tongkat itu tertahan, seorang atau lebih kawannya saya 
dengar
mengingatkan eeee, itu bukan. Lalu polisi yang akan menggebuk saya, 
secara
sekilas minta maaf, "Maaf ya, saya kira demonstran," katanya.

Saya sudah tak mendengar lagi, karena pikiran saya sudah mulai kalut. 
Saya
ingat beberapa kawan TEMPO hanya melihat dari kaca di lantai 3 dan 
beberapa
lainnya dari dalam pagar.

Lalu saya minta kepada seorang polisi, yang lain (bukan yang menyuruh 
saya ke
depan massa), saya minta perwakilan mereka 2 sampai 5 orang saja, 
saya akan
menerima mereka, mendengarkan keluhan yang akan disampaikan dan 
memberi
penjelasan. Saya lalu membawa mereka ke lantai 3, bahkan seseorang di
antaranya
(belakangan saya tahu bernama Guntur Medan), mengatakan wah capeknya 
nih naik
tangga. Saya bilang ya, berbeda dengan kantor Tomy Winata yang naik 
lift itu.
Saya bawa ke ruang rapat lantai 3 yang sialnya masih terkinci, tapi 
belum 2
menit, ruangan itu sudah dibuka oleh pegawai TEMPO. Saya sempat basa-
basi
menawarkan minum air, teh atau kopi, tapi mereka bilang tak perlu. 
Saya
bingung, demontran yang datang bukan dua sampai 5 seperti yang saya 
minta,
tapi
belasan orang, saya lihat polisi (saya ingat tampangnya) menyuruh 
mereka
masuk.


Saya Tanya siapa saja mereka kok, banyak, saya berpikir kawatir 
kantor ini
diacak-acak, atau ada barang-barang yang hilang maklum kantor sepi 
dan tak
jelas siapa yang datang masuk ke kantor. "O,o mereka wartawan," jawab 
polisi
itu. Ternyata yang berada di dalam ruang rapat belasan orang adalah 
para
pendukung demo itu, ada beberapa polisi, saya di temani Abdul Manan, 
yang
duduk
di sebelah kiri saya, seorang bagian umum TEMPO, belakangan saya 
lihat ada
seorang lagi dari TEMPO Bahasa Inggris. Beberapa kawan TEMPO lain 
tampak
berada
di luar ruang rapat.

Saya minta apa keluhan mereka. Saya mengenalkan nama saya, dan 
kebenaran saat
itu saya bilang saya yang bertanggung jawab, karena yang lain sedang 
tidak
ada,
karena hari Sabtu. Seorang (yang belakangan bernama Yosep, menggertak 
tidak
ada
orang atau sengaja diliburkan karena tahu kami akan datang?) Saya 
bilang
sekarang Hari Sabtu, yang masuk hanya yang piket saja, dan orang yang 
belum
selesai tulisannya. Akhirnya debat yang tak perlu itu putus. Seorang 
yang
bernama Teddy Uban (tangan kanan Tomy Winata), lelaki berambut putih 
berbicara
nyerocos, marah-marah. Bahwa TEMPO menulis hal yang tidak benar, 
akibat
tulisan
itu kantor Bank Artha Graha di Jln.Jayakarta dilempari telor, "Pak 
Tomy juga
diteror, bahkan Hari Senin, sejumlah pedagang korban kebakaran Pasar 
Tanah
Abang akan menyerbu kantor Arta Graha di Jln. Jendral 
Sudirman. "Kalau nggak
percaya gua telepon Kapolda nih, mau?" kata Teddy.

"Ya, silakan saja," kataku. Dia tampak berusaha menelepon, saya nggak 
tahu
apakah benar menelepon Kapolda itu atau cuma gertakan. "Beliau sedang 
acara
acara nggak bisa diganggu," kata Teddy. Sejumlah orang pengikut Tomy, 
di dalam
ruang rapat berteriak-teriak mengompori, sahut menyahut, bagi saya 
itu biasa
terjadi, dalam rapat-rapat. Sudah cukup, saya bilang, "Saya akan 
menjelaskan
persoalannya." saya katakan, "Saya sudah terima somasi dari Pak Tomy 
melalui
pengacaranya Desmon, bahkan hari ini kabarnya akan ada konprensi 
pers, kami
terima keluhan anda, kami juga sedang berusaha menemui Pak Tomy, 
rencananya
hari Senin, sekarang kabarnya Pak Tomy sedang berada di Kendari. Saya 
terima
keluhan anda."

Belum selesai saya omong Teddy sudah menyahut kembali, "kamu kan 
penulisnya,
kami minta siapa sumber Anda, hayo sebutkan sekarang, tunjukkan kalau 
Anda
katakan Anda akan aman, akan kami amankan."
Saya bilang, "ada prosesnya seperti yang sudah ada dalam somasi ini," 
kata
saya
menunjukkan somasi, "apa pun ada prosedurnya, orang bersalah juga 
tidak
langsung dimasukkan ke penjara, tapi ke polisi dulu diproses, ke 
kejaksaan
lalu
ke pengadilan baru masuk ke penjara."

"Ah, lu wartawan taik semua, lu nulis begitu UUD, ujung-ujungnya 
duit, abis
nulis lu dekati bos gua minta duit, taik lu, " kata Teddy sambil
jalan-jalan di
seberang meja, tak lagi duduk.

"Eh... Anda jangan begitu ini penghinaan, mana buktinya, TEMPO tidak 
seperti
yang Anda sebutkan," kata saya.

"Eeee lu ngomong bolak balik bisa aja," katanya emosi sambil 
mengambil tisu
kotak kayu dan dilemparkan ke kepala saya, saya tangkis, rupanya kena 
kawan
saya Abdul Manan yang berada di sebelah kiri saya, kena pas di tengah 
antara
mata, dan hidung, luka berdarah, seorang bagian umum mengambil 
betadin dan
mengelapkan betadine ke luka itu, tangan saya yang luka bertambah 
berdarah,
setelah menangkis itu, dan sambil menjulurkan jari tanda minta diberi 
betadine
juga.

"Lo, kok dikantor saya main kekerasan begitu," kata saya kepada 
polisi yang
berdiri di sebelah kanan saya, yang diam saja. Saya langsung 
menelepon BHM,
"Udah deh kalau begitu saya telepon atasan saya."
"Panggil kesini segera," kata Teddy dengan suara keras.

Seorang yang bernama Yosep menyela bicara, "Kamu tahu pimpinan kami di
Kendari,
berarti kamu mengkuti kemana saja bos kami pergi ya?"

Situasi tak jelas karena banyak yang omong namun yang dominan Teddy, 
Yosep
yang
menekan-nekan dan yang lain bersahut-sahutan.

Saya telepon BHM, sempat saya pada telepon pertama karena saya punya 
nomor
yang
lama. Lalu saya telepon lagi, dan bilang saya tak bisa mengatasi 
situasi, saya
keluar ruang bertemu dengan Kapolsek Menteng. Saya tanya, "Bagaimana 
nih Pak
Kapolsek?"

"Gimana ya selesaikan dong, kan anda yang tahu persoalannya," kata 
Kapolsek
Menteng itu.

Lalu Teddy menelepon, "Nih sudah ada yang nulisnya, disini diapain," 
katanya.
Tak lama kemudian lelaki putih, berbaju jeans biru naik Belakangan 
saya tahu
bernama David alias A Miauw (juga dikenal sebagai tangan kanan Tomy 
Winata) ia
menyerocos terus marah-marah tak jelas minta sumber berita itu supaya
dihadirkan sekarang juga. Bahkan ia menyebut-nyebut soal yang berbau 
rasial.
"Jangan mentang-mentang Tomy winata, Cina, ya, gua cina, buka 
diskotek, buka
judi, lalu lu tulis senaknya."

"Nggak begitu Pak David," kata saya," disini kami pluralis tak 
pandang suku."

"Lu banyak omong bisa aja balikin omongan orang," katanya sambil dia 
nyerocos
saya lihat mata dia, "E, mata elu jangan melotot ngeliatin gua 
ngomong gua
bunuh sekarang lu bisa juga," kata David emosi. Orang asal Flores, 
orangnya
Tomy Winata mengambil bangku lipat yang ada dikantor mau di pukulkan 
ke wajah
saya, sudah terayun, begitu juga seorang Flores lain yang memakai 
baju safari
biru gelap didanyanya tertulis bordiran PMD warna merah. Mendekati 
saya mau
memukul. Entah kenapa tidak jadi saya dikepruk.

Karaniya (kebetulan dia juga keturunan Cina) masuk, saya bersyukur, 
karena
David sudah menggunakan ungkapan rasial. Akhirnya Karaniya yang 
mengambil alih
situasi. Semua penjelasan Karaniya juga tak digubris, dan David serta 
kembali
memaki-maki, "Elu ngomong kayak berak. Gua tiup mati lu!"

Saya kini hanya lesu tertunduk loyo, sebagai manusia saya akui saya 
takut dan
merasa tertekan waktu itu, saya cuma telepon kembali BHM, dia sudah 
berada di
jalan kolong BNI 46, Sudirman. David sudah tak sabar meminta saya 
ditangkap,
dibawa ke kantor polisi, "Ini sudah ada penulisnya dia yang 
bertanggung jawab
bawa saja," kata David.

Kapolsek Menteng juga mendesak saya soal penyelesaiannya. Saya bilang,
"Tunggu,
pimpinan saya, Bambang harymurti, sudah tak jauh, paling lama 10 
menit." Saya
masuk ke dalam ruangan, David keluar ruangan menelepon entah kemana, 
saya
mencoba mencairkan suasana. Saya peluk Yosep dan lelaki berbaju 
safari yang
bertampang seperti kawan kita di kantor yang berasal dari NTT juga 
Saya bilang
Anda dari mana? Dari Flores, "Wah satu tempat dengan saya, bapak saya 
dari
Waingapu,"
"O, kita satu kampung, untung saya nggak jadi ngepruk kamu," kata 
Yosep, "Kamu
kenapa ke depan massa untung kamu selamat."

Saya bilang, "Saya berani karena saya pikir yang di depan saudara 
saya semua
asal flores jadi saya aman," kata saya. Kami mengobrol basa-basi, 
Yosep
menekan
saya, "kamu katakan saja siapa sumber kamu, ayo kamu akan aman, aku 
yang jamin
deh, udah jangan takut," katanya sedikit merayu. Saya hanya senyum 
saja. 

Saya keluar ruangan, tak lama kemudian BHM datang dan mengambil semua 
tanggung
jawab berhadapan dengan preman yang tak jelas omongannya, kesana 
kemari
membangga-banggakan diri, mengancam akan membunuh, membakar kantor 
ini,
menjadikan Humanika kedua, bilang kantor TEMPO ini kecil dibeli sama 
Tomy juga
bisa. Dia juga menelepon mengendalikan massa di luar untuk terus 
menekan. 

David dengan sombong juga mengatakan, soal bom Bali, "Tahu nggak yang 
memberi
tahu adanya bom Bali pertama kali ke Kapolri, gua, dia belum tahu gua 
udah
tahu."

Ia juga ngomong soal kebakaran Tanah Abang. "Elu tahu apa soal 
kebakaran Tanah
Abang. Gua tahu titik api pertama kali, kenapa pemadam kebakaran 
tidak bisa
masuk ke pasar. Jadi, lu, jangan sok tahu soal kebakaran tanah 
Abang," kata
David. Apa maksudnya? 

Akhirnya sampai situasi, harus ke kantor polisi, agar massa di depan 
kantor
bisa tenang. BHM minta jaminan keamanan dan barikade polisi. Bari kade
malah di
dalam kantor, untung di luar turun hujan. BHM tampak naik ke mobil 
Timor milik
polisi, dan berusaha mempersiapkan tempat untuk saya berdua. 

Tetapi saya ditahan David untuk tidak masuk mobil polisi, saya mulai 
khawatir
diculik dan dibawa ke tempat lain, saya terus berpegangan erat dengan
Karaniya.
Mobil Land Cruiser hitam milik Arta Graha (tampak dari tanda pengenal 
diujung
kanan dekat sopir) di dalam sudah masuk orang-orang Tomy winata yang 
tadi ikut
menarik-narik badan saya di tengah massa di depan kantor. Karaniya 
menarik
seorang polisi (dadan/dadang untuk ikut masuk ke dalam mobil) di 
mobil itu
sempat bertumpuk-tumpuk. Akhirnya di bangku tengah kami berempat, 
sebelah kiri
saya Haris Sumbi, Ambon yang tinggal di Bendungan Hilir, karena saya 
pernah
bertemu dia beberapa kali di Retro, Hotel Crown, depan Polda Metro 
jaya,
setelah saya ingat-ingat, ia mengiyakan ingatan saya itu. Sebelah 
kanan saya
Karaniya, sebelah kanan nya lagi polisi Dadang tadi. Di depan David 
dan sopir,
dibangku belakang tiga orang dari arthha graha, Yosep, si gondrong 
kurus yang
menarik-narik baju saya di depan massa dan lainnya. Akhirnya, kami 
dibawa
pergi, dengan suara sirenenya, nguing-nguing. 

Di dalam mobil, David berkata lewat telepon, "Kantor itu lu segel, 
nggak boleh
ada seorang pun karyawan TEMPO yang keluar dari situ, sampai 
persoalan ini
selesai, mengerti?" Katanya entah kepada siapa? Alhamdulillah 
ternyata kami
bukan dibawa kemana-mana tapi ke kantor Polres Jakarta Pusat. 

Sudah aman di kantor Polres? Nggak juga, David marah-marah kepada 
Yosep, "Elu
tahu, gua pecat lu, dia kan orang Flores, seharusnya elu yang duluan
ijak-injak
dia sampai mati." Sejak saat itu tampang Yosep tak lagi bersahabat 
malah
menekan-nekan. Dialah yang pertama kali menggebuk wajak BHM dari 
belakang di
kantor polisi. Buk. Keras juga, sehingga kaca matanya terpental. 
David, Teddy,
dan beberapa preman lainnya juga memaki-maki dan mendorong-dorong BHM 
di depan
kantor Kapolres Jak-Pus. 

Saya, BHM, dan Karaniya dibawa ke ruang kerja Kasat Serse Polres Jak-
Pus A.R.
Yoyol. Masuk ke ruangan kerja Kasat Serse sekitar 5 polisi (beberapa
berpakaian
preman), David, Teddy, Haris Sumbi, dan sekitar 5 orang David 
lainnya. David
terus mengoceh, soal BHM sebagai komandan yang harus bertanggung 
jawab,
mengancam akan membunuh. "Lu gue tembak juga deh sekarang, kalau gue 
di
penjara
dan dibunuh disini nggak takut. Mana, mintain pistol?" kata David. 

Dia ngoceh terus menunjuk-nunjuk saya dan BHM. "Lu, kan, orang pintar 
kalau
ngua kan nggak makan sekolah, SD aja gua nggak tamat, tapi gua megang 
tempat
judi di Harco Mangga dua menghidupkan 800 orang, gua bayar mereka Rp 
50 ribu
tiap hari, lu bisa?"

BHM berusaha menjawab tudingan David yang tak masuk akal dan tak 
berdasar, dan
menyebutkan cara penyelesaiannya secara prosedur yang sudah ada, 
beberapa
polisi reserse ada di dalam ruangan itu juga beberapa orang Tomy 
Winata. Dari
TEMPO cuma saya, BHM dan Karaniya. Lalu David emosi, dan menonjok 
perut BHM,
menendangnya dan memukul-mukul kepalanya, "Ini saking pinternya sampe 
botak.
Karaniya marah dan protes atas perlakuan itu, malah bogem mentah 
menghantam
wajah sebelah kirinya. Keras juga. Saya hanya diam saja. Saya lihat 
apa yang
dilakukan David sudah tidak wajar, menghina banyak orang termasuk 
polisi dan
tentara. "Udahlah polisi sudah gua bayar semua, lampu disini juga gua 
yang
beliin, gua juga ngeluarin duit buat wartawan Rp 150 juta tiap bulan 
ada
daftarnya. Sutiyoso juga gue yang jadiin sebagai Gubernur, kalau 
kagak mana
bisa dia jadi gubernur. Udahlah lu nggak ada ape-apenya jangan macem-
macem.
Udah deh persoalan ini bisa selesai kalau Ciputra udah ketemu sama 
bos gue
Tomy
Winata. Telepon dia!" kata David.

"Wah saya nggak punya teleponnya, sejak handphone saya hilang," kata 
BHM.
"Ah lu pemimpin goblok nih gua teleponin," kata David. Dia 
sambungkan. "Halo
ada yang mau bicara nih,'' telepon David pindah ke BHM. BHM ngomong 
dengan
Ciputra. Tapi hanya memberitahukan persoalan saja. Kata BHM kemudian 
Ciputra
bilang kan saya nggak ikut-ikutan urusan redaksi, "Cuma komisaris 
saja, anda
kan yang tangani." 

Situasi di ruangan Kasat Serse tak jelas. Saya, BHM, dan Karaniya tak 
berkutik
dan tak bisa melawan. Polisi yang hadir cuma menonton tanpa berusaha 
mencegah
semua tindakan brutal itu. Belakangan, di situ juga hadir Kasat serse 
Yoyol
yang datang setelah penggebukan. Tapi David masih berlaku tak sopan 
dengan
polisi, bahkan merendahkan martabatnya, namun polisi-poilisi itu 
menerima saja
tampaknya. IRONIS, BAHKAN DI KANTOR POLISI HUKUM PUN SEPERTI TAK 
EKSIS.

Tak lama kemudian, David mengatakan, "Sekarang ini di luar beredar 
kabar Anda
diculik ditangkap, tapi sebenarnya Anda kesini, kan untuk 
menyelasaikan
persoalannya, ya," kata David menekan-nekan. 

Kami diminta untuk berbicara di lain tempat untuk bersepakat dan 
berbicara
pada
pers, bahwa kami tidak ditangkap, tidak ada kekerasan, tidak ada 
penggebukan.
Beruntung memang banyak kawan-kawan jurnalis yang ikut ke kantor 
Polres,
sehingga, tekanan terhadap kami mulai berkurang. Sehingga di dalam 
ruangan
data
di Polres kami mengadakan konprensi pers, BHM lah yang berbicara dan 
seorang
yang mengaku Habib Hamid Alhamid dari Ambon yang mengaku punya 
pengajian
membawa 50 orang massa dengan 2 metro mini dan mendapat makan dari 
Tomy
Winata.


Saat kami di dalam ruangan untuk konprensi pers, sebenarnya kami masih
tertekan, karena orang-orang Tomy Winata masih banyak di dalam ruang 
itu dan
depan ruangan konprensi pers. Jawaban-jawaban BHM terkesan diplomatis 
dan
menghindarkan jawaban-jawaban langsung. Wajar kami sudah hopeless, di 
ruang
kantor polisi saja orang-orang Tomy Winata bisa berbuat seenaknya. 
Siapa yang
jamin, apa lagi kabarnya kantor masih disegel dan dijaga orang-orang 
Tomy
Winata.

Saya lebih banyak diam dan mendengarkan pembicaraan. Kesombongan 
David,
ancamannya dan penghinaannya terhadap profesi jurnalis dan polisi, 
begitu juga
setelah dipindahkan ke ruang Kapolres Jakpus dan hadir Kapolres AKBP
Sukrawardhi
Dahlan, yang juga tak bisa berbuat banyak. Bahkan, Teddy Uban lalu 
mengontak
Kapolda melalui HP-nya. Setelah tersambung, HP itu diserahkannya ke 
Kapolres.
Kapolres terdengar bicara, "Siap, Jenderal. Siap, Jenderal" Setekah 
itu ia
bilang ke BHM, "Wah, ini sudah jadi urusan di atas. Saat ini Kapolda 
sedang
membicarakan nasib saya ke Kapolri". Ia lalu menguliahi kami, bahkan 
Kapolres
cenderung mengarahkan agar TEMPO, membuat pernyataan permohonan maaf 
pada Tomy
Winata karena berita yang telah dibuat itu fiktif. Tapi BHM tetap 
berkelit dan
tak mau ada pernyataan itu. 

Yang keluar akhirnya adalah pernyataan bersama, yang dikonsep oleh 
Karaniya
dan
Haris Sumbi (dari pihak Tomy Winata) di ruang lain. Baik David alias 
A Miauw
dan Kapolres meminta agar TEMPO menyatakan semua kejadian dianggap 
selesai
disana, namun berkali-kali soal permintaan maaf TEMPO diminta oleh 
David,
Teddy,
dan kapolres. Tapi BHM bertahan. Akhirnya, pernyataan bersama itulah 
yang
keluar, yaitu akan menyerahkan persoalan itu dengan lewat jalur 
hukum. Di
pernyataan itu, David alias A Miauw menyatakan diri sebagai YANG 
MEWAKILI TOMY
WINATA. Kami keluar dari ruang Kapolres, bersalam-salaman (hanya basa 
basi),
persoalan sesungguhnya masing menggantung. Kenapa kekerasan bisa 
terjadi,
bahkan
di kantor polisi? Saya sudah putus asa.

Penutup

Saya kawatir sikap kritis jurnalis akan digadaikan dengan ketakutan 
dan
terror.
Baru menghadapi seorang Tomy Winata yang punya saham di Hotel 
Borobudur,
kelompok Artha Graha Grup, sejumlah tempat hiburan dan judi. Tekanan 
yang
lebih
besar akan terus terjadi dari orang-orang lain yang punya kekuasaan 
secara
politik, punya uang, punya senjata, punya otorisasi menangkap, 
menculik,
membunuh dan punya massa. Persoalan ini harus diselesaikan secara 
tuntas. Saya
minta David, Teddy, Yosep, Hamid Al-Hamid dkk di proses secara hukum 
dan adil
sesuai andil yang mereka lakukan dalam terror ini. Juga Tomy Winata 
dimintai
pertanggung jawabannya. Kalau tidak bakal bisa terjadi pada siapapun 
dan
institusi manapun. Situasi bisa terjadi seperti Zaman Soeharto (orde 
baru)
atau
bahkan lebih buruk lagi seperti terjadi di Kolombia, Amerika Latin, 
ketika
mafia kartel barang-barang terlarang menguasai negeri. Saya tak tahu 
harus
berbuat apa?

Jakarta, 10 Maret 2003, pukul 04.45 WIB

Ahmad Taufik
Wartawan MBM TEMPO 
Anggota Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta

Catatan:

Mungkin ada yang terlewat, atau kurang jelas, bisa dikonfirmasikan 
kepada
masing-masing pihak yang saya sebutkan dalam cerita itu di atas. 
Inilah yang
sementara saya bisa rekam dalam waktu hampir lima jam.. Diselingi 
minum pocari
sweat, air putih dan madu, sesekali ke kamar kecil. Banyak teman-
teman yang
membantu dalam proses pendinginan suasana dan melepaskan tekanan 
sedikit semi
sedikit, termasuk kawan-kawan jurnalis lainnya, saya mengucapkan 
terima kasih.
Begitu juga simpatisan yang bergerak untuk melawan ketidakberadaban 
itu, baik
yang lewat SMS, yang dikirimkan kepada saya dan kemana-mana, maupun 
yang
membuat pernyataan tertulis, serta aksi-aksi nyata yang dilakukan. 
Saya masih
tertekan secara psikis, tetapi saya dan teman-teman di TEMPO tidak 
takut untuk
melawan. Terima kasih
--- End forwarded message ---



Other related posts: