[ak93-feua] FW: [cs_angkatan_30] FW: [alumnifhunair] Drama Akbar ??!
- From: "Andrijanto" <Andrijanto@xxxxxxxxx>
- To: <ak93-feua@xxxxxxxxxxxxx>
- Date: Tue, 17 Feb 2004 11:16:57 +0700
-----Original Message-----
From: Mochammad Victor Antariksa
Sent: Tue 2/17/2004 10:43 AM
To: cs_angkatan_30@xxxxxxxxxxxxxxx; SMANIXBAYA@xxxxxxxxxxxxxxx
Cc:
Subject: [cs_angkatan_30] FW: [alumnifhunair] Drama Akbar ??!
-----Original Message-----
From: Dhanny Jauhar [mailto:dhanny7@xxxxxxxxx]
Sent: Sel 17/02/2004 10:10
To: alumnifhunair@xxxxxxxxxxxxxxx
Cc:
Subject: [alumnifhunair] Drama Akbar ??!
Camera wartawan lebih tajam daripada peluru serdadu ?
link:
http://www.suaramerdeka.com/cybernews/harian/0402/15/layar.htm
<http://www.suaramerdeka.com/cybernews/harian/0402/15/layar.htm>
Mata Jahat Kamera
SEPANJANG Kamis (12/2) kemarin, nyaris semua media terkecoh oleh
Akbar Tanjung. Dengan kecerdasannya, orang nomor satu di Partai
Golkar itu memanfaatkan televisi untuk ikut memainkan "politik
ruang
keluarga" yang dia skenariokan. Luar biasa!
Jutaan pemirsa televisi pasti tersedot oleh liputan kasus kasasi
Akbar Tanjung. Semua stasiun teve berlomba mencari angel paling
tepat, untuk menjadi yang terbaik. Laporan langsung persidangan,
demonstrasi di depan Gedung Mahkamah Agung, wawancara dengan
banyak
pihak yang terkait dengan kasus itu, menjadi sajian utama. Tapi,
tampaknya TV7 lebih jeli membaca peluang. Televisi milik Group
Kompas
itu membagi dua layar televisi, menampilkan pembacaan dakwaan
dan
suasana di rumah keluarga Akbar Tanjung.
Maka yang tampak kemudian sepanjang hari itu adalah perbandingan
antara suasana persidangan dan atmosfer di rumah Akbar. Keluarga
besar Akbar berkumpul. Dia bersama istri dan dua anaknya duduk
di
sofa dan menonton teve dengan tegang. Berkali-kali dia
menyalami tamu
yang hadir, tapi matanya fokus ke televisi. Di sisi kirinya,
Ruhut
Sitompul, asyik melempar senyum ke para tamu dan sesekali
menatap
televisi. Tapi, jika Anda perhatikan, beberapa kali Ruhut
menatap
kamera TV7 dengan ekspresi yang aneh. Ia menyadari sungguh
kehadiran
kamera.
Kehadiran Ruhut penting dicatat di sini. Sebelumnya,
sebagaimana yang
dicatat Kompas (12/2), dia telah mengatakan bahwa kliennya,
Akbar
Tanjung, pasti bebas. "Saya yakin seratus persen. Rumput
bergoyang
pun sudah tahu," ujarnya sambil tertawa. Pernyataan Ruhut itu
bertolak-belakang dengan Akbar yang masih berharap, "Saya mohon
kepada para kiai untuk mendoakan saya agar bisa lolos dari
cobaan
ini," katanya di Jember, Rabu (11/2). Dari dua pernyataan itu,
kita
dapat melihat arah media, terutama televisi, dalam menangkap
momen
putusan kasasi tersebut.
Sandiwara Akbar
Poin pertama yang harus dicatat, apa yang dikatakan Ruhut
sebenarnya
telah menjadi rahasia umum. Hampir semua media online, sepanjang
Selasa sudah memberitakan tentang akan bebasnya Akbar. Tentu
tanpa
menyebut sumber berita itu. Ruhut sendiri hanya mengatakan
informasi
bebasnya Akbar dia dapatkan berdasarkan jaringan yang dia
miliki di
MA. Tapi skor putusan 4-1 yang dia katakan, ternyata memang
terbukti.
Poin kedua adalah pernyataan Akbar. "Saya ingin mendengarnya
bersama
istri dan anak saya di rumah, karena ini memengaruhi kehidupan
saya
dan keluarga," ucapnya.
Ada kejanggalan pada dua pernyataan di atas. Sebagai pembela
nonligitasi Akbar Tanjung, Ruhut Sitompul tidak mungkin tidak
memberitahukan diterimanya kasasi kasus korupsi Rp 40 miliar
dana
nonbujeter Bulog itu. Artinya, jika hari Selasa saja para
wartawan
telah mendapatkan bocoran tentang hasil keputusan kasus itu,
dan hari
Rabu Ruhut sudah "tergelak-gelak" mengatakan hasil keputusan
itu,
sangat mustahil Akbar belum tahu.
Indikasi lain, Akbar mengikuti sidang itu dari rumah dan
membiarkan --
atau mungkin mengundang-- teve untuk meliput kegiatan dia di
rumah
sepanjang hari itu. Dari sini saja dapat ditarik konklusi,
sangat
tidak mungkin jika Akbar tidak tahu hasil putusan kasasi itu,
dia
berani mengundang wartawan teve. Apakah dia siap reaksi semua
keuarganya, tertangkap kamera, jika kasasinya ditolak MA? Maka
semua
reaksi yang tampil di rumah Akbar jelas "sandiwara akbar".
Sayang, inilah yang tidak ditangkap teve. Akbar dengan sederetan
penasihatnya yang sangat cerdas justru memanfaatkan mata kamera
untuk
memperbaiki citra. Maka duduklah dia di sofa itu dengan wajah
tegang,
bibir yang terus mendaraskan doa, dan hanya berdiri untuk pergi
shalat. Istrinya, Krisnina, duduk dengan wajah kelabu, nyaris
tampa
make-up, pucat, wajah kurang tidur. Hanya dua anak mereka yang
riang.
Si bungsu tersenyum terus dan yang nomor tiga duduk tanpa
gelisah.
Kamera teve terus mengikuti gerak-gerik Akbar. Dan begitulah,
saat
magrib, Akbar pun berbuka puasa, meneguk air putih, dua keping
roti
kering, dan lima menit kemudian, putusan kasasi jatuh. Dia
segera
menengadahkan tangan, berdoa syukur. Sementara, takbir "Allah
Akbar"
bergema di ruangan. Akbar meneguk lagi air putihnya dan hadirin
yang
menyalami dan memeluknya, menyibak, memberikan ruang baginya
untuk
sujud syukur. Sempurnalah "sandiwara" itu.
Jelas, sujud syukur dan doa itu bukan sandiwara dan juga bukan
reaksi
spontan. Tapi semua momen itu dia lakukan dengan kesadaran ada
kamera
yang mewakili jutaan pasang mata. Adegan berikutnya adalah
tayangan "telenovela", tangisan, pelukan, takbir syukur, yang
membentuk citra betapa Akbar sangat dicintai, betapa hebat
ikatan
keluarga besar mereka. Dan jujur, suasana haru itu memang
merembes ke
pemirsa yang larut karena ikut mengamati sedari awal.
Kealpaan Media
Televisi seakan tidak cukup dengan tayangan "politik" ruang
keluarga
itu. MetroTV pukul 22.00 WIB menayangkan "Election Watch" dengan
moderator Denny JA yang juga membahas kasus Akbar, menghadirkan
Wasekjen Golkar Bomer Pasaribu. Pukul 24.00, MetroTV kembali
mengulas
kasus itu dalam "Midnight Live" dengan narasumber wakil
mahasiswa
pendemo dan Ketua AMPG Yorris Raweaei.
Tapi dua tayangan itu masih dapat dimaafkan dibandingkan dengan
tayangan "Duduk Perkara" TV7 pukul 20.00 WIB. Tayangan ini bukan
mendudukkan perkara kasasi itu di tempat yang sebenarnya,
melainkan
meloncat membahas "drama mengharukan" di keluarga Akbar
Tanjung. Uni
Lubis memang menghadirkan wakil dari ICW dan Presidencial,
selain
Akbar dan putrinya, tapi dua narasumber itu hanya pajangan.
"Duduk Perkara" malam itu justru melecehkan nalar penonton
dengan
tidak membahas substansi pertimbangan hakim yang membebaskan
Akbar.
Moderator justru bertanya, perlakuan semacam apa yang diterima
putri
Akbar di sekolah setelah ayahnya didakwa kasus korupsi itu. Ini
kan
cara berpikir yang setali tiga uang dengan empat hakim agung
yang
sibuk menganalisis Terdakwa II dan Terdakwa III tapi tidak
memberi
banyak uraian mengenai Terdakwa I (Akbar Tanjung).
Kebodohan itu masih berlanjut dengan kelucuan moderator yang
menghubungkan kebebasan Akbar dengan Hari Valentine.
Masya-Allah,
keputusan yang menyangkut penegakan supremasi hukum dan
moralitas
hanya didudukkan sebagai anugerah pada Hari Valentine.
Bayangkan,
talk show macam apa itu yang menggiring penonton kian menjauhi
"duduk
perkara"? Itu belum cukup, Uni bahkan bertanya kepada dua
narasumber
lain, tidakkah mereka ikut sedih dan tergerak melihat kesulitan
dan
derita yang dialami keluarga Akbar Tanjung? Gila!
Dari semua tayangan di atas, tampaknya media (terutama televisi)
tidak menyadari skenario yang dikembangkan "tim humas" Akbar
Tanjung.
Dengan pernyataan Akbar sebelumnya bahwa dia akan menunggu
putusan
bersama keluarga saja, telah terbaca "arah angin" yang ingin
ditiupkan politikus senior itu.
Dengan menunggu di ruang keluarga dan mengundang televisi juga
media
lain memasuki domain keluarga tersebut, tampak secara nyata
Akbar
ingin mengubah kasus korupsi itu dari ranah ruang publik menjadi
wilayah ruang keluarga. Artinya, posisi nyata kasus itu yang
menjadikan Akbar sebagai Terdakwa I dengan jabatan publik
sebagai
Mensesneg dia geser, dengan bantuan media, sebagai tanggung
jawab
pribadi, seorang ayah.
Yang tampil kemudian adalah kegelisahan seorang ayah yang
diapit dua
putrinya, yang cemas dan gugup, didampingi istrinya yang pucat
dan "kumuh" daripada kegelisahan ratusan rakyat kecil yang tak
terangkat nasibnya karena "hilangnya" dana Rp 40 miliar itu.
Begitu canggih Akbar memainkan skenario itu, sehingga begitu
putusan
bebas dibacakan, citra kelegaan keluarga yang ditonjolkan. Dan
keberhasilan memainkan "politik ruang keluarga" itu berimbas
pada
liputan media selanjutnya yang sudah terhipnotis oleh tayangan
tersebut, sehingga menginfiltrasi tayangan sejenis "Election
Watch"
dan "Duduk Perkara".
Media dalam hal ini melakukan bias: lebih banyak menghadirkan
"fakta
psikologis" daripada "fakta sosiologis". Bukan hanya itu, dalam
peliputan kasus ini pun, media mengambil praktek talking news,
menyitir pendapat tokoh-tokoh daripada menyajikan dampak kasus
itu
pada masyarakat kebanyakan.
Dan yang paling memprihatinkan, berdasarkan intensitasitas
peliputan,
media hanya menjadikan kasus ini sebagai "hiburan" dan "berita"
an
sich. Hanya meliput ketika suasana sedang panas atau bahkan
haru.
Saya yang melihat pembodohan itu hanya bisa mengelus dada,
karena
sebagai orang yang bekerja di media, saya merasa sedang ikut
menanggung dosa.
_____
Do you Yahoo!?
Yahoo! Finance: Get your refund fast by filing online
<http://us.rd.yahoo.com/evt=22055/*http://taxes.yahoo.com/filing.html>
Yahoo! Groups Sponsor
ADVERTISEMENT
Click HereClick Here
<http://rd.yahoo.com/SIG=12clqj238/M=274551.4550177.5718621.1261774/D=egroupweb/S=1705381225:HM/EXP=1077073867/A=1994230/R=2/*http://ad.doubleclick.net/jump/N3349.yahoo1/B1282054.22;abr=!ie4;abr=!ie5;sz=300x250;code=18634;dcopt=rcl;ord=1076987467724899?>
<http://us.adserver.yahoo.com/l?M=274551.4550177.5718621.1261774/D=egroupweb/S=:HM/A=1994230/rand=465595311>
_____
Yahoo! Groups Links
* To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/alumnifhunair/
* To unsubscribe from this group, send an email to:
alumnifhunair-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<mailto:alumnifhunair-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx?subject=Unsubscribe>
* Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo!
Terms of Service <http://docs.yahoo.com/info/terms/> .
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor ---------------------~-->
Buy Ink Cartridges or Refill Kits for your HP, Epson, Canon or Lexmark
Printer at MyInks.com. Free s/h on orders $50 or more to the US &
Canada.
http://www.c1tracking.com/l.asp?cid=5511
http://us.click.yahoo.com/mOAaAA/3exGAA/qnsNAA/pO4qlB/TM
---------------------------------------------------------------------~->
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/cs_angkatan_30/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
cs_angkatan_30-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
Other related posts:
- » [ak93-feua] FW: [cs_angkatan_30] FW: [alumnifhunair] Drama Akbar ??!