[ak93-feua] FW: Buka Bareng

Yah lumayan rodho lengkap........

        -----Original Message----- 
        From: Ardian Zamroni [mailto:ronny_ssl.log@xxxxxxxxxxxxxxxx] 
        Sent: Thu 11/20/2003 1:10 PM 
        To: Wahono Yulianto; STP Internal Audit (SDA); 
ferry.ja.putra@xxxxxxxxxxxxxxxx; Andrijanto 
        Cc: Dina Starsindo 
        Subject: Buka Bareng
        
        
Dari kolom Jalansutra Kompas Cyber Media.
 
 <http://www.kompas.co.id/kcm/bondan/bondan.jpg> Bondan Winarno
- Penulis -
Penulis adalah Pemimpin Redaksi Harian Suara Pembaruan yang telah menyinggahi 
banyak tempat di dunia dan mencicipi hidangan khas tempat-tempat yang 
disinggahinya. (E-mail: bwinarno@xxxxxxxxxxxxxx)    



Kya-kya Surabaya


         Kirim Teman <http://www.kompas.com/kirim_berita/index.cfm?nnum=37369>  
| Print Artikel <http://www.kompas.com/kirim_berita/index.cfm?nnum=37369>       
        

Penggemar Jalansutra, Bakti Sudaryono, belakangan ini sering ke Surabaya karena 
Bank Dunia – tempatnya bekerja – baru buka cabang di sana. Satu kali dia kirim 
SMS dari Surabaya menanyakan di mana tempat makan yang enak. Inilah jawaban 
lengkapnya.

Kalau mau gampang dan dekat hotel, pergi saja ke Tunjungan Plaza yang memang 
tidak jauh dari beberapa hotel bagus di Surabaya. Sheraton, Mandarin, Hyatt 
Regency, semuanya dekat situ. Kok nggak kreatif banget, sih? Cari makan enak 
kok di food court?

Tunggu dulu, food court di lantai 5 Tunjungan Plaza itu memang "menyimpan" 
banyak kejutan. Salah satu favorit saya di sana adalah "Marina" Indonesian 
Seafood & Grill. Saya suka sup hipio isi (hipio = perut ikan) yang bening dan 
segar. Kepiting steam bawang putihnya juga recommended. Berbagai jenis ikan, 
udang, dan kepiting segar tersedia di situ untuk dipilih dan dimasak sesuai 
keinginan.

Di dekat "Marina" terdapat "Hong Kong Noodle" dan "Fajar" yang terkenal dengan 
ragam bakmi serta hidangan Tionghoa lainnya.

Pilihan lain yang direkomendasikan di Tunjungan Plaza adalah "Waroeng 
Toendjoengan" dan "Selera Suroboyo". Kedua gerai ini mempunyai konsep yang 
sama, yaitu menyajikan pilihan dari berbagai hidangan khas. Di "Waroeng 
Toendjoengan", misalnya, tersedia soto "Gubeng Pojok", bakso "Pak Kus", babat 
gongso Semarang, gudeg dan pecel "Bu Har", nasi krawu Gresik "Bapak Kulon", mi 
kluntung, masakan khas Ampel "Bu Nur", dan ayam penyet "Peneleh". 

Sedangna di "Selera Suroboyo" tersedia mi kluntung "Pak Mitro", nasi 
krengsengan dan nasi kare "Depot Langgeng Sidoarjo", kikil sapi dan nasi gurih 
"Ibu Betty Pasar Atum", rujak "Plaza Surabaya" (rujak tolet, rujak gobet, rujak 
cingur, semanggi, tahu campur), sate ayam Tretes "Pak Kumis", dan soto Ambengan 
"Pak Sadi Asli".

Apa bedanya rujak gobet dan rujak tolet? Rujak gobet buahnya diparut kasar, 
lalu dicampur dengan bumbunya. Sedangkan rujak tolet buahnya di iris 
tipis-tipis untuk dicocolkan ke bumbunya.

Konsep "Waroeng Toendjoengan" dan "Selera Surabaya" ini juga punya versi yang 
lebih mentereng dalam sajian kelas kafe. Namanya Cafesera (mungkin singkatan 
dari café serba ada, supaya lebih keren daripada pujasera) "Nikmat Rasa" di 
Jalan Polisi Istimewa (dulu penggal jalan ini masih bagian dari Jalan Dr 
Sutomo. Entah kenapa sekarang diganti dengan nama aneh begitu). Di sana 
tersedia rujak cingur "Plaza Surabaya", soto Ambengan "Pak Sadi Asli", soto 
daging "Gubeng PJKA", gado-gado "Arjuno", mi kluntung "Mitro", dan lain-lain.

Penggemar soto juga pasti sejahtera bila berada di Surabaya. Kalau mau soto 
ayam, yang terkenal adalah soto ayam "Pak Sadi Asli", di Jalan Ambengan. Kalau 
mau soto sapi Madura, pilihannya beragam. Salah satu yang terkenal adalah Soto 
"Gubeng Pojok". Dulunya memang berlokasi di pojokan dekat Stasiun Gubeng. 
Tetapi, karena di situ sudah dibangun jembatan layang, warung soto itu pindah 
ke Jalan Kusuma Bangsa.

Di "Gubeng Pojok" kita bisa minta soto daging saja, daging campur jeroan, atau 
soto buntut. Dulu, ketika masih di lokasi aslinya, yang khas di warung soto ini 
adalah nasi yang dibungkus daun ploso (mirip daun waru, tetapi bercabang tiga). 
Sekarang penggunaan daun ploso itu sudah dilarang demi alasan lingkungan. Maka, 
hilang pulalah tradisi dan cara makan soto yang khas itu.

Saya sendiri lebih suka Soto Sulung "Cak Suit". Konon, ini adalah cikal bakal 
semua Soto Sulung. Awalnya, "Cak Suit" ini berlokasi di Jalan Pasar Besar 
Wetan. Daerah itu dikenal dengan nama Kampung Sulung. Dari situlah istilah Soto 
Sulung mulai menjadi nomenklatur. Sekarang, "Cak Suit" diteruskan oleh anaknya, 
dan warungnya pindah ke Jalan Sulung Sekolahan, masih di Kampung Sulung, persis 
di depan gereja GKI. Menurut saya, Soto Sulung ini lebih miroso karena 
dagingnya lebih lama direbus dalam kuah soto.

Penggemar rujak cingur/kikil, jangan lupa singgah di warung rujak di Jalan 
Ahmad Jais yang konon merupakan rujak cingur termahal di dunia. Harganya Rp 35 
ribu per porsi. Tetapi, benarkah rasanya uenak tenan? Beberapa orang Surabaya 
yang saya tanyai malah punya rujak cingur favorit lain. Elfi, misalnya, seorang 
pembaca setia "Jalansutra", punya rujak favorit "Yu Yem" di Jalan Tenis, 
Malang. Lho?

Jangan lupa makan malam di Kya-kya Surabaya di kawasan Jembatan Merah. Kalau 
tak salah, kya-kya itu artinya jalan-jalan makan angin. Tetapi, di sini kita 
bisa jalan-jalan sambil makan-makan sungguhan.

Ini adalah gagasan cemerlang Dahlan Iskan, bos Grup Jawa Pos, yang mengubah 
ruas Jalan Kembang Jepun di malam hari menjadi tempat makan. Jalanan itu 
ditutup untuk umum. Ribuan kursi dan meja digelar di sana. Di kiri-kanan jalan, 
ratusan gerobak makanan berlomba menarik minat. Pilihannya sungguh sangat 
lengkap.

Inilah antara lain daftar makanan yang tersedia di sana: masakan Kanton, 
masakan Tiociu, he mie, lo mie, kwetiauw Medan, nasi krawu, pecel Madiun, bakso 
Solo, gudeg, nasi liwet, sate Padang, pempek Palembang, ikan bakar, dan banyak 
lagi. Jangan lupa, di sela-sela meja makan, kadang-kadang ada tukang ramal 
berpraktik dengan kartu atau membaca garis tangan. Asyik punya!

(Catatan: Tidak jauh dari "Kya-Kya Surabaya" juga ada cabang Rawon "Nguling" di 
Jalan Rajawali dan Café "Sampoerna" yang merangkap museum rokok kretek di dekat 
Penjara Kalisosok). 

OK, kalau sudah "kenyang" dengan kelas warungan, Anda juga boleh mencoba yang 
kelas kafe dan restoran. Salah satu favorit saya adalah "Kafe Jendela" di Jalan 
Sonokembang, karena cukup berjalan kaki dari Hyatt Regency. Jalan Sonokembang 
adalah jalan pendek yang menghubungkan Jalan Kayoon dengan Jalan Panglima 
Sudirman.

"Kafe Jendela" sebetulnya merupakan reinkarnasi dari restoran yang dulu disebut 
"Serayu". Sekarang menjadi café merangkap gallery yang menawarkan lukisan dan 
berbagai aksesori hiasan rumah. Café ini menempati sebuah rumah tua yang 
dipelihara apik, sebagian tempat duduk diatur di teras luar rumah. Bila malam 
hari ada hiburan live music yang lumayan. 

Sayang, Hungarian goulash soup yang dihidangkan terlalu asin dan terlalu pedas. 
Australian T-Bone Steak yang Rp 45 ribu cukuplah dikomentari dengan: so-so. Ada 
harga ada rupa, kan? Tetapi, tempatnya cukup nyaman untuk santai-santai minum 
wedang ronde dan pisang goreng.

Di Jalan Raya Gubeng terdapat banyak kafe dan restoran yang cukup terkenal. 
Antara lain adalah "Pondok Kuring", "Ria Galeria", "Biyung", "Boncafe", "Sun 
Café", "Kuningan Seafood", "Boemboe Djawa" (di Jalan Sulawesi, dekat situ).

Saya ingin cerita sedikit tentang sebuah kafe yang baru saja dibuka di Jalan 
Raya Gubeng itu, bahkan masih soft opening ketika saya kunjungi awal bulan 
lalu. Namanya "Redwoods". Di tempat itu dulunya adalah gerai hamburger "Arby’s" 
yang sekarang sudah hengkang. Di bawah namanya, tertera tulisan grill, noodle, 
café.

Saya duga "Redwoods" akan menjadi salah satu tempat makan favorit bagi orang 
Surabaya dan turis lokal yang sudah "termanjakan" oleh berbagai café baru di 
Jakarta. Kualitas makanan dan penyajiannya masih bisa ditingkatkan agar sepadan 
dengan penampilannya yang minimalis modern. Harga-harga yang di bawah harga 
café Jakarta merupakan strategi yang tepat untuk Surabaya. Es krim New 
Zealand-nya juga merupakan daya tarik yang bagus.

Sebetulnya saya juga ingin mencoba "The Rocks", sebuah restoran di Jalan Raya 
Darmo Permai (Kompleks Darmo Boulevard) yang belum lama ini dikunjungi Rudy 
Sujanto (Eric), seorang anggota milis Jalansutra. Sayangnya, saya mendapat 
nomor telepon yang salah, sehingga tidak berhasil menghubunginya. 

Surabaya tampaknya akan semakin mirip Jakarta dalam hal pengadaan tempat-tempat 
makan yang menarik. Maklum, di kota yang tak menawarkan banyak pilihan objek 
wisata, makanan dan tempat makan bisa menjadi objek wisata menarik.

Lho, kok malah sudah kehabisan tempat untuk cerita tentang berbagai makanan 
khas Jawa Timur lainnya, ya? Ada kol nenek, ada lontong kupang, dan masih 
banyak lagi. Ya sudah, diceritakan lain kali saja, ya, Mas Bakti? 

                        
        _______________________________________________
        IncrediMail - Email has finally evolved - Click Here 
<http://www.incredimail.com/redir.asp?ad_id=309&lang=9> 


Other related posts: