[ak93-feua] FW: [Alumni FE Unair] Suatu Pagi Di Emplasemen Stasiun Jatinegara
- From: "Andrijanto" <Andrijanto@xxxxxxxxx>
- To: <cs_angkatan_30@xxxxxxxxxxxxxxx>
- Date: Tue, 24 Aug 2004 14:17:53 +0700
-----Original Message-----
From: supriyono@xxxxxxxxxx [mailto:supriyono@xxxxxxxxxx]
Sent: Wed 8/4/2004 10:09 AM
To: alumni_fe_unair@xxxxxxxxxxxxxxx
Cc:
Subject: [Alumni FE Unair] Suatu Pagi Di Emplasemen Stasiun Jatinegara
Suatu Pagi Di Emplasemen Stasiun Jatinegara
Kereta Api Bima yang saya tumpangi dari Madiun perlahan-lahan memasuki
stasiun
Jatinegara. Para penumpang yang akan turun di Jatinegara saya lihat
sudah
bersiap-siap di depan pintu. Sementara itu, dari jendela, saya lihat
beberapa
orang porter/buruh angkut berlomba lebih dulu masuk ke kereta yang masih
melaju. Mereka berpacu dengan kereta, persis dengan kehidupan mereka
yang terus
berpacu dengan tekanan kehidupan kota Jakarta.
Saat kereta benar-benar berhenti, kesibukan penumpang yang turun dan
porter
yang berebut menawarkan jasa kian kental terasa. Sementara di luar
kereta saya
lihat kesibukan kaum urban yang akan menggunakan kereta. Mereka
kebanyakan
berdiri,karena fasilitas tempat duduk kurang memadai. Sebuah lagu lama
PT. KAI
yang selalu dan selalu diputar dengan setia.
Tiba-tiba terdengar suara anak kecil membuyarkan keasyikan saya
mengamati
perilaku orang-orang di Jatinegara. Saya lihat seorang bocah berumur
sekitar 10
tahun berdiri disamping saya. Kondisi fisiknya menggambarkan tekanan
kehidupan
yang berat baginya. Kulitnya hitam dekil dengan baju kumal dan
robek-robek
disana-sini. Tubuhnya kurus kering tanda kurang gizi.
“Ya?” Tanya saya kepada anak itu karena saya tadi konsentrasi saya
melihat
orang-orang di luar kereta.
“Maaf, apakah air minum itu sudah tidak bapak butuhkan ?” katanya
dengan penuh
sopan sambil jarinya menunjuk air minum di atas tempat makanan dan minum
samping jendela
Pandangan saya segera mengikuti arah telunjuk si bocah. Oh, air minum
dalam
kemasan gelas dari katering kereta yang tidak saya minum. Saya bahkan
sudah
tidak peduli sama sekali dengan air itu. Semalam saya hanya minta air
minum
dalam kemasan gelas untuk jaga-jaga dan menolak nasi yang diberikan oleh
pramugara. Perut saya sudah cukup terisi dengan makan di rumah.
“Tidak. Mau ? Nih…” kata saya sambil memberikan air minum kemasan gelas
kepada
bocah itu. Diterimanya air itu dengan senyum simpul. Senyum yang tulus.
Beberapa menit kemudian, saya lihat dari balik jendela kereta, bocah
tadi
berjalan beririringan dengan 3 orang temannya. Masing-masing membawa
tas kresek
di tangannya. Ke empat anak itu kemudian duduk melingkar dilantai
emplasemen.
Mereka duduk begitu saja. Mereka tidak repot-repot membersihkan lantai
yang
terlihat kotor.
Masing-masing kemudian mengeluarkan isi tas kresek masing-masing.
Setelah saya
perhatikan, rupanya isinya adalah “harta karun” yang mereka temukan di
atas
kereta. Saya lihat ada roti yang tinggal separoh, jeruk medan, juga
separuh;
sisa nasi catering kereta, dan air minum dalam kemasan gelas !
Selanjutnya dengan rukun mereka saling berbagi “harta karun” temuan
mereka dari
kereta. Saya lihat bocah paling besar menciumi nasi bekas catering
kereta untuk
memastikan apakah sudah basi atau belum. Tanpa menyentuh sisa makanan,
kotak
nasi itu kemudian disodorkan pada temannya. Oleh temannya, nasi sisa
tersebut
juga dibaui. Kemudian, dia tertawa dengan penuh gembira sambil
mengangkat
tinggi-tinggi sepotong paha ayam goreng. Saya lihat, paha ayam goreng
itu sudah
tidak utuh. Nampak jelas bekas gigitan seseorang. Tapi si bocah tidak
peduli,
dengan lahap paha ayam itu dimakannya.
Demikian juga makanan sisa lainnya. Mereka makan dengan penuh lahap.
Sungguh,
sebuah “pesta” yang luar biasa. Pesta kemudian diakhiri dengan berbagi
air
minum dalam kemasan gelas !
Menyaksikan itu semua, saya jadi tertegun. Saya lihat sendiri persis di
depan
mata, potret anak-anak kurang beruntung yang mencoba bertahan dari
kerasnya
kehidupan. Nampaknya hidup mereka adalah apa yang mereka peroleh hari
itu.
Hidup adalah hari ini. Esok adalah mimpi dan misteri. Cita-cita ? Masa
Depan ?
Lebih absurd lagi.
Saat kereta kembali berjalan meninggalkan Jatinegara, pikiran saya
masih pada
anak-anak tadi. Dimanakah para penyelenggara negara ? Kok,mereka
sepertinya
tidak tersentuh oleh pelayanan dan perlindungan negara? Apakah anak-anak
tersebut tidak berhak atas masa depan? Kemanakah pajak yang telah
dipungut dan
dibayar oleh rakyat? Apakah hanya untuk digunakan bagi kemewahan pejabat
publik? Rumah dinas, baju dinas, mobil dinas, tunjangan kehormatan,
pesangon
(bagi anggota DPRD), dan…..biaya studi banding !
Bagi saya pribadi, pelajaran berharga yang saya petik adalah, bahwa
saya harus
makin pandai bersyukur atas segala rejeki dan nikmat yang diberikan
oleh Allah
SWT. Dan tidak lagi memandang sepele hal yang nampak sepele, seperti
misalnya:
air minum kemasan gelas. Karena bisa jadi sesuatu yang bagi kita
sepele, bagi
orang lain sangat berarti.
Salam,
Supriyono
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Yahoo! Domains - Claim yours for only $14.70
http://us.click.yahoo.com/Z1wmxD/DREIAA/yQLSAA/wf.olB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
---------------------------------------------------
Alumni of Economic Faculty
Airlangga University Mailing List
To quit this maillist, please email:
Alumni_FE_Unair-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
To join this maillist, please email:
Alumni_FE_Unair-subscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
Archieve messeges in here:
http://groups.yahoo.com/group/Alumni_FE_Unair
Visit alumni website for the latest news !!!
http://www.ikafelangga.or.id
---------------------------------------------------
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/Alumni_FE_Unair/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
Alumni_FE_Unair-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
Other related posts:
- » [ak93-feua] FW: [Alumni FE Unair] Suatu Pagi Di Emplasemen Stasiun Jatinegara