
|
[ppi]
||
[Date Prev]
[08-2005 Date Index]
[Date Next]
||
[Thread Prev]
[08-2005 Thread Index]
[Thread Next]
[ppi] [ppiindia] Lagu Kebangsaan "1/3 Indonesia Raya"
- From: "Ambon" <sea@xxxxxxxxxx>
- To: <"Undisclosed-Recipient:;"@freelists.org>
- Date: Wed, 17 Aug 2005 11:51:37 +0200
** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
** Situs resmi: http://www.ppi-india.org **
** Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia **
** Situs Beasiswa: http://informasi-beasiswa.blogspot.com
**http://www.suarapembaruan.com/News/2005/08/16/index.html
SUARA PEMBARUAN DAILY
Lagu Kebangsaan "1/3 Indonesia Raya"
HAMPIR setiap kali ada upacara resmi, lagu kebangsaan Indonesia Raya
dinyanyikan. Namun, barangkali tidak banyak yang menyadari, yang dinyanyikan
hanyalah sepertiga dari seluruh lagu karya WR Soepratman itu. Tidak cukup jelas
alasannya, tetapi itulah yang terjadi selama ini. Bahkan sebagian besar dari
kita tidak merisaukan, jarang sekali atau mungkin tidak pernah, menyanyikan
lagu kebangsaan secara utuh.
Bisa saja berkilah, kalau lagu kebangsaan dinyanyikan utuh akan terasa panjang,
karena terdiri atas tiga stanza atau couplet, sehingga cukup stanza pertama
saja yang dinyanyikan. Padahal, kalau dinyanyikan penuh, lagu ini membutuhkan
waktu kurang dari sepuluh menit. Atau sekitar tiga menit untuk setiap stanza
dengan dua kali menyanyikan bagian refrain untuk setiap stanza.
Jika waktu merupakan alasan, begitu tinggikah bangsa ini menghargai waktu
sehingga enam atau tujuh menit tak mau dipakai menyanyikan lagu kebangsaan?
Padahal, kita sehari-hari menyaksikan bagaimana waktu dibuang sia-sia?
Kekacauan pengaturan lalu lintas menimbulkan kemacetan, acara-acara tak dimulai
tepat waktu, birokrasi lamban mengerjakan administrasi, proses perizinan yang
panjang. Dan perlu dicatat Indonesia Raya bukanlah satu-satunya lagu kebangsaan
yang panjang di antara lagu kebangsaan di dunia.
Atau sebenarnya kita telah terbiasa hidup dalam iklim yang korup, sehingga
simbol negara yang penting pun kita "korup"? Tiga simbol penting bagi negara
adalah bendera, lambang negara, dan lagu kebangsaan. Predikat sebagai salah
satu negara terkorup di dunia memang makin lengkap, bahkan lagu kebangsaan pun
dikorup. Abai pada dua stanza lagu kebangsaan mungkin cermin yang lebih nyata
tentang sikap kita pada kebangsaan, dan cita-cita berdirinya negara ini.
Barangkali ada pula pihak-pihak yang memandang simbol-simbol seperti itu sudah
tidak diperlukan lagi dalam zaman modern ini. Namun, justru yang patut
dicermati, bukan masalah simbol yang tak diperlukan, tetapi kegagalan menangkap
esensi dan makna simbol tersebut yang sebenarnya terjadi. Dan justru hal ini
yang berbahaya.
60 Tahun Diabaikan
Dalam peringatan 60 tahun kemerdekaan Indonesia kali ini sangat mungkin kita
juga akan mengabaikan dua stanza terakhir lagu kebangsaan kita. Ada yang
menyebutkan jangankan dua stanza yang diabaikan, stanza pertama yang
dinyanyikan setiap upacara resmi saja mungkin tidak dihayati maknanya. Maka
yang ingin disuguhkan di sini adalah apa isi dua stanza yang berpuluh tahun
kita abaikan itu.
Dalam usia 60 tahun kemerdekaan, kita sekarang justru menghadapi
masalah-masalah yang serius berkaitan dengan kohesi setiap individu dan
komponen sebagai satu bangsa, satu negara yang mempunyai cita-cita bersama.
Tidak mengherankan jika diskriminasi masih terjadi di negara yang didirikan
dengan cita-cita mewujudkan martabat manusia.
Dalam usia yang sudah cukup matang, bangsa ini justru berkutat dengan masalah
korupsi yang mencerminkan rapuhnya solidaritas, rasa kebangsaan dan
kebersamaan. Suatu kondisi yang sangat kontras dengan awal kemerdekaan di mana
orang mengorbankan kepentingan pribadi untuk kepentingan bersama: sebuah bangsa
yang merdeka. Kita juga menghadapi masalah demokrasi dan akuntabilitas dalam
pemerintahan yang juga mencerminkan cita-cita kemerdekaan dan pengorbanannya
tengah dicampakkan oleh mereka yang rakus kekuasaan.
Masalah-masalah yang kita hadapi sekarang justru yang ditekankan dua stanza
lagu kebangsaan yang kita abaikan.
Inilah yang kita abaikan selama ini: (stansa ke-2): Indonesia tanah yang mulya,
tanah kita yang kaya. Di sanalah aku berada untuk selama-lamanya. Indonesia
tanah pusaka, pusaka kita semuanya. Marilah kita berdoa: Indonesia bahagia.
Suburlah tanahnya, suburlah jiwanya, bangsanya, rakyatnya, semuanya. Sadarlah
hatinya, sadarlah budinya untuk Indonesia Raya.
(Stanza ke-3) Indonesia tanah yang suci, tanah kita yang sakti. Di sanalah aku
berdiri m'jaga Ibu sejati. Indonesia tanah berseri, tanah yang aku sayangi.
Marilah kita berjanji: Indonesia Abadi. Slamatlah tanahnya, slamatlah
puteranya, pulaunya, lautnya, semuanya. Majulah negerinya, majulah pandunya
untuk Indonesia Raya.
Apa yang terjadi dalam kurun 60 tahun kita abaikan dua stanza ini. Tanah tak
lagi subur, juga jiwa kita. Hati kita kering dan negeri ini dipenuhi konflik,
bahkan berkekerasan dan berkepanjangan, karena budinya yang makin rendah.
Pada stanza kedua kita makin merasa prihatin, karena tak banyak yang mau
berjanji Indonesia abadi. Akibatnya tak selamat tanah kita, banyak pencemaran,
makin tak subur dan hutannya dijarah semena-mena.
Nasib para putra bangsa diabaikan, pulaunya hilang, lautnya dijarah
nelayan-nelayan asing. Negeri ini tertinggal dari negeri lain, dan kita
mengalami krisis pandu (pemimpin).
Sampai kapan kita akan mengabaikan dua stanza itu, yang juga bisa berarti
mengabaikan cita-cita kemerdekaan?
Pembaruan/Sabar Subekti
Last modified: 16/8/05
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
<font face=arial size=-1><a
href="http://us.ard.yahoo.com/SIG=12hht1sgv/M=320369.6903865.7846595.3022212/D=groups/S=1705329729:TM/Y=YAHOO/EXP=1124279678/A=2896112/R=0/SIG=1107idj9u/*http://www.thanksandgiving.com
">Give the gift of life to a sick child. Support St. Jude Children¿s Research
Hospital</a>.</font>
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
--------------------------------------------------------------------------
Bagi Anda yang ingin berdiskusi tentang apa saja dg akrab, santai tapi serius
dan penuh persahabatan dg seluruh masyarakat/mahasiswa Indonesia di luar negeri
serta tokoh-tokoh intelektual dan pejabat Tanah Air, silahkan bergabung dg
milis ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxxx Kirim email kosong ke:
ppiindia-subscribe@xxxxxxxxxxxxxxx atau kunjungi
Situs resmi: http://www.ppi-india.org ;
Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia ;
Situs beasiswa/scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com
--------------------------------------------------------------------------
|

|